Trump Picu Kembali Ketegangan Perdagangan, Bursa Asia Melemah

Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Selasa (3/12/2019) setelah Presiden AS Donald Trump mengejutkan pasar dengan memberlakukan tarif pada impor produk baja dari Brasil dan Argentina.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  15:37 WIB
Trump Picu Kembali Ketegangan Perdagangan, Bursa Asia Melemah
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Selasa (3/12/2019) setelah Presiden AS Donald Trump mengejutkan pasar dengan memberlakukan tarif pada impor produk baja dari Brasil dan Argentina.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 0,43 persen, dengan bursa saham Australia mencatat hari terburuk dalam dua bulan terakhir dengan penurunan 2,2 persen.

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing 0,45 persen dan 0,64 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan ditutup melemah 0,38 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 menguat 0,31 persen, sedangkan indeks CSI 300 menguat 0,39 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,25 persen setelah sebelumnya jatuh hingga 1,44 persen.

Dalam tweet pada hari Senin, Trump mengatakan ia akan mengenakan tarif pada impor baja dan aluminium dari Brasil dan Argentina, karena kedua negara dianggap melakukan devaluasi mata uang besar-besaran.

Bertentangan dengan pernyataannya, Brasil dan Argentina telah berusaha memperkuat mata uang mereka masing-masing terhadap dolar.

Steven Daghlian, analis pasar di CommSec di Sydney, mengatakan, meskipun tarif impor untuk negara-negara Amerika Selatan mendominasi kekhawatiran pasar pada hari Selasa, tanggapan China terhadap dukungan AS untuk para demonstran anti-pemerintah di Hong Kong juga menimbulkan sentimen negatif.

"Pasar sangat sensitif terhadap berita baik atau buruk tentang perselisihan AS-China, tetapi juga hubungan AS dengan negara-negara lain juga," katanya, seperti dikutip Reuters.

China mengatakan pada hari Senin bahwa kapal dan pesawat militer AS tidak akan diizinkan untuk mengunjungi Hong Kong, dan juga mengumumkan sanksi terhadap beberapa organisasi non-pemerintah AS karena mendorong para demonstran untuk terlibat dalam tindakan ekstremis, kekerasan, dan kriminal.

Menambah sentimen negative, data dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan sektor manufaktur AS mengalami kontraksi untuk bulan keempat berturut-turut pada bulan November menyusul penurunan jumlah pesanan baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top