Indeks Manufaktur China November Melonjak, Tembaga Ikut Menanjak

Harga tembaga naik bersama dengan sebagian besar logam dasar lainnya pada perdagangan Senin (2/12/2019) setelah indeks sektor manufaktur China melonjak secara tak terduga, meningkatkan prospek permintaan komoditas.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  14:06 WIB
Indeks Manufaktur China November Melonjak, Tembaga Ikut Menanjak
Batang tembaga terlihat di pabrik kabel Truong Phu di provinsi Hai Duong utara, di luar Hanoi, Vietnam 11 Agustus 2017. - REUTERS /Kham

Bisnis.com, JAKARTA - Harga tembaga naik bersama dengan sebagian besar logam dasar lainnya pada perdagangan Senin (2/12/2019) setelah indeks sektor manufaktur China melonjak secara tak terduga, meningkatkan prospek permintaan komoditas.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, indeks manajer pembelian manufaktur dalam negeri resmi naik menjadi 50,2 dan menjadi data indeks pertama yang dirilis di atas angka batas 50 sejak April. Hal tersebut menunjukkan adanya ekspansi output di tengah dukungan pemerintah dan ekonomi global yang tidak stabil.

Sementara itu, berdasarkan data Caixin Media dan IHS Markit, indeks pembelian manager manufaktur China pada November naik menjadi 51,8 dibandingkan dengan 51,7 pada Oktober dan sebesar 50,2 pada periode yang sama tahun lalu. Pencapaian November tersebut menjadi ekspansi selama empat bulan berturut-turut.

Analis Argonaut Securities Helen Lau mengatakan bahwa secara keseluruhan data PMI tersebut sangat menggembirakan untuk industri manufaktur sehingga mendorong harga logam dasar karena proyeksi permintaan yang berpotensi pulih.

"Ini perkembangan positif bagi perekonomian dalam pandangan kami yang bisa mendorong permintaan komoditas. Ini juga menunjukkan bahwa perang perdagangan yang berlangsung berlarut-larut belum mengganggu perekonomian China berkat dukungan kebijakan pemerintah," ujar Helen dalam risetnya seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (2/12/2019).

Di sisi lain, harga juga masih dibayangi oleh ketidakpastian negosiasi dagang AS dan China terkait kesepakatan tahap pertama. Pemerintah China dikabarkan masih bersikeras meminta AS untuk membatalkan kenaikan tarif impor dan memasukkannya ke dalam bagian dari kesepakatan dagang fase pertama tersebut.

Pada perdagangan Senin (2/12/2019) pada pukul 13.44 WIB, harga tembaga di bursa London bergerak menguat 0,31% menjadi US$5.897 per ton. Sepanjang tahun berjalan tembaga telah bergerak melemah 1,6% akibat proyeksi permintaan yang tertekan.

Untuk logam dasar lainnya, aluminium menguat 0,48% menjadi US$1.768,25 per ton, sedangkan timbal melemah 0,32% menjadi US$1.938 per ton dan seng melemah 0,58% menjadi US$2.262,5 per troy ounce.

Sementara itu, harga nikel berayun di  antara keuntungan dan kerugian setelah membatasi kerugian bulanan terburuk di antara komoditas utama pada November di tengah kekhawatiran permintaan untuk sektor stainless steel. Harga nikel saat ini stabil di level US$13.627 per ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur china, komoditas tembaga

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top