Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

OPEC Sinyalkan Status Quo, Harga Minyak Turun Lagi

Harga minyak mentah turun lagi setelah OPEC dan aliansinya mengisyaratkan tidak akan memperdalam upaya pemangkasan produksi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 29 November 2019  |  07:53 WIB
Matahari terbenam di belakang sebuah pompa minyak di luar Saint-Fiacre, dekat Paris, Prancis 17 September 2019. - REUTERS/Christian Hartmann
Matahari terbenam di belakang sebuah pompa minyak di luar Saint-Fiacre, dekat Paris, Prancis 17 September 2019. - REUTERS/Christian Hartmann

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah turun lagi setelah OPEC dan aliansinya mengisyaratkan tidak akan memperdalam upaya pemangkasan produksi.

Pada saat yang sama, minyak juga terbebani langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani legislasi yang mendukung demonstran di Hong Kong. Keputusan ini serta merta menyulut kekhawatiran atas prospek kesepakatan dagang AS-China.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak Brent untuk kontrak Januari 2020 berakhir turun 19 sen di level US$63,87 per barel di ICE Futures Europe Exchange pada perdagangan Kamis (28/11/2019), setelah berakhir 21 sen di posisi 64,06 pada Rabu (27/11).

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari 2020 naik tipis 0,2 persen ke level US$58,24 per barel di New York Mercantile Exchange sebelum perdagangannya dihentikan sekitar pukul 1 siang waktu New York pada Kamis.

Harga minyak berjangka di New York mengakhiri perdagangannya lebih awal pada Kamis di New York, dalam kisaran antara US$58 dan US$58,50 per barel untuk hari keempat, karena libur Thanksgiving.

Pergerakan pada Kamis selanjutnya akan diakumulasikan untuk perdagangan Jumat (29/11). Pada perdagangan Rabu (27/11), minyak WTI berakhir melemah 30 sen di posisi 58,11.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Data yang disampaikan kepada komite OPEC di Wina menunjukkan pasar akan seimbang pada tahun 2020 jika kartel minyak itu mempertahankan tingkat output saat ini.

Sementara itu, China mengatakan bahwa undang-undang AS yang mendukung otonomi Hong Kong akan menegangkan hubungan antara AS dan China tepat di saat kedua negara tengah berupaya mencapai kesepakatan perdagangan.

Perkembangan terbaru ini muncul setelah rilis laporan pada Rabu (27/11) yang menunjukkan peningkatan mengejutkan dalam stok minyak mentah AS dan rekor produksi.

“Anda sekalian mungkin mengharapkan langkah pemangkasan [produksi minyak] lebih dalam dari OPEC. Kami tidak memperkirakan itu akan terjadi,” ujar Daniel Ghali, pakar strategi komoditas di TD Securities.

Harga minyak mentah WTI telah rebound sejak merosot mendekati level US$50 per barel pada awal Oktober di tengah tanda-tanda AS dan China akan mencapai kesepakatan perdagangan parsial.

Namun, prospek terkait hal itu telah tertekan sejak mendekati level US$59 pekan lalu dan kesepakatan antara kedua negara kini bisa lebih sulit tercapai dengan Beijing mengancam untuk membalas dan mengatakan undang-undang baru soal Hong Kong berisiko mempengaruhi "kerjasama di bidang-bidang penting".

“Legislasi Hong Kong yang ditandatangani Trump mungkin telah memberi beberapa implikasi pada perdagangan. Dari sudut pandang negosiasi, langkah itu tidak membantu,” tambah Ghali.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Januari 2020

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

28/11/2019

holiday

holiday

27/11/2019

58,11

-0,30 poin

26/11/2019

58,41

+0,40 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak Januari 2020

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

28/11/2019

63,87

-0,19 poin

27/11/2019

64,06

-0,21 poin

26/11/2019

64,27

+0,62 poin

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top