Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Demonstrasi Selama 6 Bulan, Dolar Hong Kong Masih Kokoh

Wakil Kepala Eksekutif Otoritas Moneter Hong Kong Howard Lee mengatakan bahwa mata uang dolar Hong Kong tersebut telah membuktikan dapat bertahan di waktu yang berbeda dan dengan tantangan yang cukup luar biasa.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 28 November 2019  |  18:08 WIB
Euro, dolarHong Kong, dolar AS, yen Jepang, Pound sterling, dan yuan China. - Reuters/Jason Lee
Euro, dolarHong Kong, dolar AS, yen Jepang, Pound sterling, dan yuan China. - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA - Bank sentral Hong Kong secara de facto meyakini mata uangnya cukup kuat untuk melawan dolar AS, meskipun unjuk rasa pro-demokrasi telah mengguncang Hong Kong hampir selama enam bulan.

Wakil Kepala Eksekutif Otoritas Moneter Hong Kong Howard Lee mengatakan bahwa mata uang dolar Hong Kong tersebut telah membuktikan dapat bertahan di waktu yang berbeda dan dengan tantangan yang cukup luar biasa.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (28/11/2019) hingga pukul 13.55 WIB, dolar Hong Kong berada di level 7,82 dolar Hong Kong per dolar AS, melemah tipis 0,022%.

Namun, sepanjang tahun berjalan 2019 dolar Hong Kong mampu mempertahankan posisinya di zona hijau dengan menguat 0,038% melawan dolar AS. Dolar Hong Kong berhasil menjadi salah satu mata uang Asia yang bergerak menguat melawan greenback di saat mata uang lainnya melemah.

“Keuntungannya jelas terlihat dan kepercayaan investor baik dalam negeri dan internasional terhadap nilai tukar Hong Kong  masih sangat kuat. Kami melihat tidak perlu mengubahnya,” ujar Howard seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (28/11/2019).

Seperti yang diketahui, Hong Kong telah terdorong ke dalam resesi pada tahun ini karena gejolak politik menutup bisnis dan membuat wisatawan menjauh dari Hong Kong ketika ekonomi juga telah melambat akibat melemahnya permintaan global sebagai dampak perang dagang AS-China.

Namun demikian, risiko arus keluar modal skala besar di Hong Kong belum terwujud dan bank lokal pun masih membukukan laba yang besar.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump yang menandatangani UU terkait demokrasi Hong Kong membuat pasar khawatir kesepakatan perdagangan parsial yang siap ditandatangani kedua belah pihak akan gagal dilakukan sehingga memperparah perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

“Tapi seperti yang Anda lihat, reaksi pasar sejauh ini cukup tenang. Banyak bankir dan praktisi pasar yang saya ajak bicara, mereka merasa bahwa dampak langsung dari RUU ini tidak akan menjadi besar untuk saat ini,” papar Howard.

Howard menguraikan tindakan yang telah diambil pemerintah Hong Kong untuk mendukung ekonomi lokal di tengah krisis, dan mengatakan bahwa pemerintah dapat mempertimbangkan tindakan lebih lanjut jika diperlukan.

Dolar Hong Kong yang berusia lebih dari tiga dekade di kota terhadap dolar AS telah menjadi fondasi dari statusnya sebagai pusat keuangan. Pihak berwenang telah mengintervensi untuk mempertahankannya secara konsisten selama bertahun-tahun.

“Selalu ada orang yang menjual dolar Hong Kong dan membeli dolar Hong Kong. Semua orang melihat bahwa aliran bersih cukup masih seimbang dalam beberapa bulan terakhir," jelas Howard.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as hong kong
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top