Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Likuiditas Berlebih, Adaro Negosiasi Kontrak Batu Bara

Emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk. tengah menegosiasikan kontrak penjualan batu bara untuk tahun depan di tengah ekses likuiditas yang dimiliki oleh perseroan.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 27 November 2019  |  17:33 WIB
Logo PT Adaro Energy, Tbk. - Reuters/Beawiharta
Logo PT Adaro Energy, Tbk. - Reuters/Beawiharta

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk. tengah menegosiasikan kontrak penjualan batu bara untuk tahun depan di tengah ekses likuiditas yang dimiliki oleh perseroan.

Head of Corporate Communication Adaro Energy Febrianti Nadira membenarkan perseroan tengah menegosiasikan kontrak penjualan untuk tahun depan. Namun, dia tidak dapat mengungkapkan besaran volume atau nilainya.

“Saat ini Adaro sudah mulai melakukan negosiasi kontrak untuk tahun depan,” ungkapnya kepada Bisnis Rabu (27/11). Menurutnya, prioritas perseroan saat ini adalah memenuhi domestic market obligation (DMO).

Ira mengatakan pada periode Januari—September 2019, ADRO telah menyuplai 40% penjualan untuk wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Volume penjualan perseroan tercatat naik 14% menjadi 44,66 juta ton. Artinya, ADRO telah menyuplai 17,86 juta ton untuk kawasan Asia Tenggara.

Selain itu, kendati pasar batu bara tengah mengendur dalam setahun terakhir ADRO masih optimistis secara fundamental bisnis segera membaik.

“Di kuartal IV, Adaro akan tetap fokus pada keunggulan operasional dan efisiensi.  Kami tetap optimistis dengan fundamental pasar batu bara di jangka panjang dan terus mengeksekusi strategi perusahaan yang dirancang untuk bisnis yang berkelanjutan,” sebutnya.

Ira pun mengakui bila kondisi makro ekonomi ikut berpengaruh besar terhadap kinerja perseroan. Oleh sebab itu, ADRO mengambil langkah untuk menambah produksi minimal sama dengan tahun lalu 54 juta ton untuk mencapai kinerja finansial yang memuaskan.

Pasalnya, masih ada permintaan yang tinggi untuk batu bara ADRO. Namun tantangan ekonomi makro dan industri masih memberi tekanan terhadap harga batu bara global. “Dengan kinerja operasional yang cukup memuaskan perusahaan berharap mencapai panduan produksi  tahun 2019 yang telah ditetapkan yaitu 54 juta-56 juta ton,” katanya.

EKSES LIKUIDITAS

Menurutnya, kondisi global yang tengah dihadapi berada di luar kontrol Adaro. Adapun pada bulan lalu perseroan menerbitkan obligasi sebesar US$750 juta. Hal itu,  lanjutnya, akan semakin memperkuat posisi finansial dan struktur permodalan perusahaan dalam menghadapi volatilitas pasar jangka pendek.

“Adaro Energy memiliki akses likuiditas sebesar US$1,26 miliar, yang terdiri dari US$1 miliar dalam bentuk kas, US$6 juta dalam bentuk aset keuangan yang tersedia untuk dijual, dan US$253 juta dalam bentuk fasilitas pinjaman yang belum dipakai. Tingkat likuiditas tersebut akan mendukung perusahaan dalam menghadapi tantangan ekonomi makro maupun industri,” katanya.

Pada kuartal III/2019, ADRO mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$2,65 miliar turun 0,48% dari realisasi tahun lalu US$2,66 miliar.

Segmen usaha pertambangan dan perdagangan batu bara masih menjadi motor utama perseroan dengan kontribusi sebesar US$2,43 miliar turun 1,23% dari realisasi tahun lalu US$2,46 miliar. Realisasi periode ini menyumbang 91,69% dari total pendapatan.

Sementara itu, segmen jasa pertambangan menyumbang US$163 juta naik 9% dari realisasi tahun lalu US$149 juta. Adapun laba bersih perseroan tecatat US$405,99 juta naik dari realisasi tahun lalu US$312,70 juta. Dengan begitu laba bersih per saham yang dapat diatribusikan sebesar US$0,012 naik 30% dari posisi US$0,009.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

adaro
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top