Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Asia Menguat di Tengah Optimisme Perdagangan

Meski demikian, saham-saham Hong Kong berkinerja buruk, diperdagangkan di zona merah Selasa pagi setelah pidato Kepala Eksekutif Carrie Lam yang menyampaikan hasil pemilu yang memenangkan kubu pro-demokrasi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 November 2019  |  10:35 WIB
Seorang wanita berjalan melewati papan elektronik yang menunjukkan grafik pergerakan indeks Nikkei Jepang baru-baru ini. - Reuters
Seorang wanita berjalan melewati papan elektronik yang menunjukkan grafik pergerakan indeks Nikkei Jepang baru-baru ini. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Saham Asia terpantau menguat pada Selasa (26/11/2019) di tengah berlanjutnya optimisme terhadap perundingan dagang AS-China, bersamaan dengan gelombang baru aktivitas merger dan akuisisi yang membantu Wall Street mencatat rekor tertinggi lebih lanjut.

Meski demikian, saham-saham Hong Kong berkinerja buruk, diperdagangkan di zona merah Selasa pagi setelah pidato Kepala Eksekutif Carrie Lam yang menyampaikan hasil pemilu yang memenangkan kubu pro-demokrasi.

Dilansir melalui Bloomberg, saham berjangka AS mengalami sedikit perubahan, setelah sempat menguat menyusul laporan dari Xinhua yang mengatakan bahwa negosiator masih terus melakukan komunikasi untuk membahas kesepakatan dagang fase satu.

Yuan juga menguat, diikuti dengan tresuri yang sedikit berubah, seperti halnya dolar AS.

Di antara kesepakatan merger dan akuisisi yang menarik perhatian investor adalah perjanjian Charles Schwab Corp. untuk mengakuisisi TD Ameritrade Holding Corp., dan rencana akuisisi Tiffany & Co. oleh LVMH.

"Ekuitas global sedang menuju kenaikan lanjutan di tengah harapan bahwa kesepakatan perdagangan fase-satu akan segera terjadi," dikutip melalui Bloomberg, Selasa (26/11/2019).

Pada akhir pekan lalu, China menyampaikan bahwa pihaknya akan memperketat aturan kekayaan intelektual, sebuah langkah yang bertujuan untuk meningkatkan peluang kesepakatan perdagangan.

Namun, Hong Kong tetap menjadi sumber ketegangan, setelah Beijing memanggil duta besar Amerika untuk mengekspresikan penentangannya terhadap campur tangan Washington.

Amy Xie Patrick, manajer portofolio di Pendal Group, mengatakan bahwa saat ini ada lebih banyak insentif dari AS maupun China untuk segera merampungkan kesepakatan dagang dibandingkan dengan putaran perundingan sebelumnya.

"Ekonomi China telah melambat lebih banyak sejak itu [awal tahun 2019] dan di AS, Trump menghadapi kampanye pemilihan 2020-nya," katanya.

Di tempat lain, Alibaba Group Holding Ltd. memulai debutnya di bursa Hong Kong dengan harga 187 dolar Hong Kong dari harga IPO sebesar 176 dolar Hong Kong.

Di Sydney, Westpac Banking Corp saham naik untuk pertama kalinya dalam 5 hari terakhir setelah CEO Brian Hartzer mengundurkan diri karena skandal pencucian uang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top