Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Optimisme Negosiasi Dagang Mengemuka, Harga Minyak Menguat

Harga minyak mentah menguat pada Senin (25/11/2019) karena komentar positif dari Amerika Serikat dan China, menyalakan kembali harapan pelaku pasar bahwa kedua negara bisa segera menandatangani kesepakatan dagang.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 25 November 2019  |  17:13 WIB
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menguat pada Senin (25/11/2019) karena komentar positif dari Amerika Serikat dan China, menyalakan kembali harapan pelaku pasar bahwa kedua negara bisa segera menandatangani kesepakatan dagang.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 16:22 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,09% atau 0,05 poin ke level US$57,82 per barel, sedangkan harga minyak mentah Brent naik 0,43% atau 0,27 poin menjadi US$63,66 per barel.

“Hal ini semua berkaitan dengan perundingan dagang,” kata Michael McCarthy, Kepala Perdagangan Strategis CMC Markets di Sydney seperti dikutip dari Reuters, Senin (25/11/2019).

Menurutnya, sentimen kelanjutan negosiasi dagang mendominasi pasar pada saat ini.

Kenaikan harga minyak ini datang setelah penasihan keamanan AS Robert O’Brien pada Sabtu (23/11) mengatakan, kesepakatan awal perdagangan AS dengan China kemungkinan dituntaskan pada akhir tahun ini.

Pernyataan muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mengekspresikan hasrat soal penandatangan kesepakan awal, dan memutus 16 bulan perang tarif yang telah membuat perekonomian global melambat.

Kendati demikian, Trump mengatakan, dia belum memutuskan apakah akan kesepakatan final atau tidak. Sementara Xi mengatakan, dia tak khawatir untuk membalas tarif ketika diperlukan.

Kementerian Luar Negeri China pada Senin (25/11) menyatakan harapannya AS akan bekerja dengan Beijing terhadap kesamaan dan saling peduli soal negosiasi dagang tanpa henti ini.

McCarthy menambahkan, langkah China untuk memproteksi kekayaan intelektual juga telah menciptakan atmosfer positif dalam negosiasi dagang tersebut. “Hal ini adalah langkah maju yang besar untuk potensi negosiasi perdagangan,” katanya.

Namun, masih ada kekhawatiran bahwa peristiwa di Hong Kong, yang terbelah oleh kerusuhan anti-pemerintah selama berbulan-bulan, dapat membayangi kemajuan pembicaraan perdagangan.

Penasihat keamanan nasional AS O'Brien memperingatkan, Washington tidak akan menutup mata terhadap persoalan Hong Kong, ketika para demonstran marah pada erosi kebebasan yang dijanjikan kepada bekas jajahan Inggris ketika kembali ke China.

Selama akhir pekan, kandidat pro-demokrasi mencetak kemenangan gemilang dalam pemilihan dewan distrik.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak bertemu pada 5 Desember di kantor pusatnya di Wina, diikuti dengan pembicaraan dengan sekelompok produsen minyak lainnya, yang dipimpin oleh Rusia. Kelompok yang dikenal sebagai OPEC +. Harga dapat didorong lebih tinggi jika OPEC + setuju untuk memperpanjang pengurangan pasokan tiga bulan lagi hingga pertengahan 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak perang dagang AS vs China
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top