Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kesepakatan Dagang AS-China Tak Pasti, Minyak Turun dari Level Tertinggi

Harga minyak turun dari level tertingginya dalam perdagangan dua bulan terakhir seiring dengan keraguan pasar terhadap prospek ekonomi global yang memberikan tekanan pada permintaan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 23 November 2019  |  23:34 WIB
Pangkalan minyak terapung Kaombo Norte terlihat dari helikopter di lepas pantai Angola, 8 November 2018. - REUTERS/Stephen Eisenhammer
Pangkalan minyak terapung Kaombo Norte terlihat dari helikopter di lepas pantai Angola, 8 November 2018. - REUTERS/Stephen Eisenhammer

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak turun dari level tertingginya dalam perdagangan dua bulan terakhir seiring dengan keraguan pasar terhadap prospek ekonomi global yang memberikan tekanan pada permintaan.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (22/11/2019) harga minyak jenis WTI di bursa Nymex berada di level US$57,77 per barel, melemah 1,38%, sedangkan harga minyak Brent di bursa ICE di level US$63,39 per barel, melemah 0,79%.

Analis PT Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan bahwa harga minyak berpeluang untuk berbalik menguat jika terdapat perkembangan positif terhadap perdagangan AS dan China sehingga dapat menguji level resisten di US$58,4 per barel selama harga tidak mampu menembus level support US$57,85 per barel.

“Penembusan level resisten tersebut berpotensi menopang kenaikan harga minyak menguji level resisten selanjutnya di US$58,60 per barel dan US$58,80 per barel,” ujar Yudi seperti dikutip dari risetnya, Sabtu (23/11/2019).

Namun, jika harga bergerak turun menguji level support di US$57,35 per barel dan bergerak lebih rendah dari level support tersebut, harga minyak berpeluang bergerak menguji level support selanjutnya di US$57,60 per barel dan US$57,35 per barel.

Seperti yang diketahui, Presiden China Xi Jinping mengatakan bahwa China ingin membuat pakta perdagangan awal dengan Amerika Serikat dan berusaha menghindari perang dagang tetapi tidak takut untuk membalas kenaikan tarif impor jika perlu.

Kepala Strategi Pasar CMC Markets and Stockbroking di Sydney Michael McCarthy mengatakan bahwa faktor kunci untuk prospek permintaan minyak adalah negosiasi perdagangan.

“Dengan harga minyak telah bergerak menguat dalam beberapa perdagangan terakhir, kami tidak heran jika melihat adanya sedikit tekanan jual,” papar Michael seperti dikutip dari Reuters.

Harga minyak telah reli ke level tertinggi sejak akhir September pada perdagangan Kamis (21/11/2019)  setelah Reuters melaporkan bahwa Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia kemungkinan akan memperpanjang pengurangan produksi hingga pertengahan 2020 dalam pertemuannya pada 5-6 Desember.

Kelompok tersebut juga akan menekankan perlunya kepatuhan perjanjian yang lebih ketat dari negara seperti Irak dan Nigeria. Adapun, perjanjian pengurangan produksi 1,2 juta barel per hari oleh OPEC saat ini hanya akan berlaku hingga akhir Maret 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top