Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Tunggu Kemajuan Kesepakatan AS-China, Wall Street Melemah

Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (21/11/2019) karena investor bersikap wait and see dengan tidak adanya kemajuan nyata pada pembicaraan perdagangan AS-China.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 22 November 2019  |  06:48 WIB
Wallstreet - Reuters
Wallstreet - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah tipis pada perdagangan Kamis (21/11/2019) karena investor bersikap wait and see dengan tidak adanya kemajuan nyata pada pembicaraan perdagangan AS-China.

Sebelumnya, Kongres AS menyetujui dua RUU untuk mendukung para pengunjuk rasa di Hong Kong dan mengirim peringatan ke China tentang hak asasi manusia. Hal ini memicu kecaman dari Beijing.

Tetapi China masih mengundang perunding perdagangan AS untuk putaran baru pembicaraan tatap muka di Beijing, seperti dilaporkan Wall Street Journal.

Sebelumnya, indeks tertekan menyusul berita bahwa kesepakatan fase pertama AS-China tidak mungkin terjadi tahun ini. Akibatnya, investor waspada untuk menempatkan ekspektasi lebih lanjut pada kesepakatan perdagangan dan mengingat bahwa saham masih mendekati rekor tertinggi.

"Titik tumpu dari optimisme ini adalah prospek perjanjian perdagangan fase satu. Investor mengatakan, 'Itu tidak akan terjadi tahun ini,'" kata Sam Stovall, kepala analis investasi di CFRA Research, seperti dikutip Reuters.

"Mereka pada dasarnya mengatakan 'Kami telah mendorong ini sejauh yang kami bisa.' Valuasi membentang di 18,5 kali pendapatan dibandingkan dengan rata-rata 20 tahun ke depan sebesar 16,5," katanya.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 54,80 poin, atau 0,2 persen menjadi 27.766,29, sedangkan indeks S&P 500 melemah 4,92 poin atau 0,16 persen ke level 3.103,54, dan Nasdaq Composite turun 20,52 poin atau 0,24 persen ke 8.506,21.

Sementara jumlah warga AS yang mencari tunjangan pengangguran secara tak terduga tidak berubah pada level tertinggi lima bulan minggu lalu, penjualan rumah AS meningkat lebih dari yang diperkirakan pada Oktober dan harga rumah naik pada laju tercepat dalam lebih dari dua tahun.

Jack Ablin, kepala investasi di Cresset Capital Management di Chicago, mengatakan tidak ada cukup kejutan dalam data untuk menghasilkan pergerakan pasar.

"Ini adalah pasar yang sedang mencari katalisator," katanya.

Tiga dari 11 sektor industri utama S&P 500 naik, dengan sektpr energi menunjukkan kenaikan terbesar (1,6 persen) karena harga minyak naik karena harapan bahwa OPEC dan sekutunya kemungkinan akan memperpanjang penurunan produksi hingga pertengahan 2020.

Pergerakan bursa saham AS
IndeksLevelPerubahan (persen)
Dow Jones27.766,29-0,2
S&P 5003.103,54-0,16
Nasdaq8.506,21-0,24

Sumber: Reuters

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top