Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

OPEC+ Disarankan Pangkas Lagi Produksi Minyak

Hingga pukul 18:00 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate masih tertahan di zona merah, dengan penurunan 0,59% atau 0,33 poin ke level US$55,64 per barel.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 24 Oktober 2019  |  19:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA –OPEC+ disarankan untuk meperbesar pemangkasan volume produksi sejalan dengan proyeksi pertumbuhan minyak mentah global dan minyak serpih Amerika Serikat.

Seperti dikutip Bloomberg, Kamis (24/10/2019), Kepala Strategi dan Inovasi Gazprom Neft PJSC Sergey Vakulenko menyarankan hal tersebut kepada kelompok produsen minyak yang terdiri atas OPEC dan mitra mereka.

“Kami berpikir bahwa mekanisme aliansi OPEC+ mungkin menjadi lebih canggih. Saat ini kami hanya melihat stok dan rata-rata. Kita bisa melihat sinyal lain seperti tingkat produksi dan perkiraan pertumbuhan permintaan,” katanya.

Vakulenko menambahkan bahwa kelompok itu bisa mulai untuk menilai tidak hanya pada proporsi pertumbuhan permintaan minyak global yang OPEC bisa penuhi, tetapi juga pangsa pasar yang tersisa untuk produsen serpih AS.

"Jadi untuk bereaksi tidak hanya pada jumlah yang terukur, tingkat stok, tetapi juga pada apa yang sebenarnya menciptakan angka itu dalam beberapa bulan dan tahun mendatang," katanya.

Ketika ditanya apakah kesepakatan OPEC + kemungkinan akan berlanjut, Vakulenko mengatakan, peluang itu ada.

"Rasanya seperti itu, ya. Kami percaya bahwa mekanisme seperti itu, dan kerja sama antara OPEC dan Rusia telah membuahkan hasil. Kami menantikannya terus berlanjut. "

Vakulenko melanjutkan, penurunan produksi serpih AS kemungkinan akan meningkatkan permintaan pasokan dari OPEC +. Menurutnya dalam jangka panjang bakal ada penarikan minyak mentah OPEC + dari pasar.

Shale AS menunjukkan beberapa tanda-tanda melambat dan permintaan terus tumbuh.”

OPEC dan sekutunya akan bertemu pada Desember mendatang untuk membahas apakah pemangkasan mendalam untuk pasokan minyak akan diperlukan, setelah perjanjian saat ini berakhir pada Maret 2020.

Minyak mentah Brent telah berjuang untuk naik jauh di atas US$60 per barel tahun ini, meskipun beberapa gangguan pasokan terburuk muncul baru-baru ini.

Rata-rata produksi minyak harian Rusia telah melampaui target OPEC + untuk sebagian besar tahun ini. Pada September, negara itu melebihi pengurangan yang dijanjikan lagi, bahkan setelah produsen melakukan pemotongan lebih dalam dari sebulan sebelumnya.

Menurut Badan Energi Internasional, OPEC + menghadapi tantangan serius jika ingin mempertahankan harga minyak tahun depan karena menghadapi surplus pasokan "menakutkan" dalam 6 bulan pertama 2020 sekitar 1,2 juta barel per hari.

Sementara itu, hingga pukul 18:00 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate masih tertahan di zona merah, dengan penurunan 0,59% atau 0,33 poin ke level US$55,64 per barel, sedangkan harga minyak mentah Brent turun 0,31% atau 0,19 poin ke level US$60,98 per barel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak komoditas
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top