Bursa Asia Menguat Tipis di Tengah Kehati-Hatian Investor

Bursa saham Asia menguat tipis pada hari Selasa (8/10/2019), dengan saham China juga menguat pada hari perdagangan perdana pascalibur sepekan selama sepekan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  15:23 WIB
Bursa Asia Menguat Tipis di Tengah Kehati-Hatian Investor
Bursa MSCI Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat tipis pada hari Selasa (8/10/2019), dengan saham China juga menguat pada hari perdagangan perdana pascalibur sepekan selama sepekan.

Namun, investor tetap berhati-hati atas pembicaraan perdagangan AS-China setelah Presiden Donald Trump mengatakan kesepakatan tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang terpantau menguat 0,55 persen, dipimpin oleh penguatan saham teknologi di Korea Selatan dan Taiwan. Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 ditutup menguat masing-masing 0,87 persen dan 0,99 persen.

Saham Samsung Electronics Korea Selatan naik 1,2 persen setelah merilis proyeksi laba. Perusahaan semikonduktor itu mengatakan laba operasi kuartal ketiga diperkirakan turun 56 persen karena penurunan harga chip memori secara global, namun masih lebih baik dari yang diperkirakan para analis.

Indeks Hang Seng menguat 0,37 persen setelah pemimpin eksekutif Carrie Lam mengatakan dia tidak punya rencana untuk menggunakan peraturan peraturan darurat untuk memperkenalkan undang-undang lain.

Di China, indeks Shanghai Composite menguat 0,29 persen, sedangkan indeks CSI 300 ditutup naik 0,61 persen.

Tingkat belanja barang ritel dan makanan selama liburan Hari Nasional China kembali tumbuh tahun ini, menandakan adanya titik terang pada ekonomi yang telah mencatat laju terlemah dalam hampir tiga dekade terakhir.

Sementara itu, sebuah survei swasta menunjukkan sektor jasa China tumbuh pada laju paling lambat dalam tujuh bulan pada bulan September.

Wakil negosiator perdagangan AS dan China pada hari Senin meluncurkan rencana pembicaraan dua hari yang bertujuan membuka jalan bagi negosiasi tingkat menteri pertama yang akan dilakukan pada Kamis dan Jumat pekan ini.

"Ada harapan yang tidak jelas pada pembicaraan yang akan datang. Trump akan menginginkan kesepakatan karena prospek pemilihannya kembali dapat dirugikan jika ekonomi terus memburuk," kata Yukino Yamada, analis senior di Daiwa Securities, seperti dikutip Reuters.

Namun prospek kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-China meredup setelah Washington memasukkan perusahaan-perusahaan China ke dalam daftar hitam atas perlakuan terhadap etnis minoritas Muslim di Beijing.

Di antara mereka yang masuk daftar hitam adalah produsen kamera pengawas Hikvision, yang perdagangan sahamnya ditangguhkan, sementara pengembang kecerdasan pengenalan suara IFLYTEK Co turun sebanyak 3,1 persen.

Trump juga mengatakan dia berharap China menemukan resolusi yang manusiawi dan damai untuk aksi protes di Hong Kong dan memperingatkan situasi yang berpotensi melukai pembicaraan perdagangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top