Strategi Diversifikasi HRME Dorong Kenaikan Pendapatan

Pada semester I/2019, emiten dengan kode saham HRME ini mencatatkan pendapatan senilai Rp50,60 miliar atau naik 17,05% secara tahunan dari Rp43,23 miliar.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 21 September 2019  |  13:21 WIB
Strategi Diversifikasi HRME Dorong Kenaikan Pendapatan
Karyawan memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan sekuritas di Jakarta, Jumat (5/4/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Strategi diversifikasi PT Menteng Heritage Realty Tbk. (HRME) mampu mendorong peningkatan pendapatan sepanjang paruh pertama tahun ini. Kendati demikian, perseroan masih membukukan rugi bersih sehingga manajemen berupaya untuk menurunkan beban keuangan.

Pada semester I/2019, emiten dengan kode saham HRME ini mencatatkan pendapatan senilai Rp50,60 miliar atau naik 17,05 persen secara tahunan dari Rp43,23 miliar.

Direktur Utama Menteng Heritage Realty Christofer Wibisono mengatakan kenaikan pendapatan tersebut ditopang oleh strategi diversifikasi perseroan dengan mengakuisisi perusahaan pelayaran PT Global Samudra Nusantara.

“Kebetulan bisnis pelayaran sedang baik sehingga pendapatan kami lebih tinggi Rp7 miliar,” ujarnya Jumat (20/9/2019).

Seperti diberitakan sebelumnya, perseroan mulai melantai di Bursa Efek Indonesia pada kuartal I tahun ini dan mengincar dana hingga Rp125,13 miliar. Sebagian besar dana hasil IPO digunakan untuk mengakuisisi perusahaan pelayaran.

Dalam laporan realisasi yang disampaikan ke BEI, penggunaan dana hasil penawaran umum nilai akuisisi perusahaan ini Rp62 miliar. Selain itu, HRME mengakuisisi PT Wijaya Wisesa Bhakti senilai Rp32 miliar, peningkatan modal PT Wijaya Wisesa Development Rp25 miliar, dan modal kerja Rp475,14 juta

Saat ini, bisnis pelayaran HRME berupa angkutan barang. Namun, saat ini pihaknya melihat potensi pengembangan di Indonesia kawasan Timur. Terlebih tren wisata menggunakan kapal carter sedang berkembang.

Christofer menuturkan dengan akuisisi perusahaan pelayaran tersebut, perseroan akan lebih mudah jika ingin merambah bisnis pelayaran untuk wisata. “Carter kapal ada pasarnya dan ini tidak jauh dari expertise yang kami punya di hospitality dan pengoperasian kapal,” jelasnya.

Dari sisi kinerja keuangan, perseroan mencatatkan laba usaha senilai Rp1,4 miliar pada semester I/2019, berbalik positif dari Juni tahun lalu yang rugi Rp3,78 miliar. Kendati demikian, HRME masih mencatatkan rugi bersih senilai Rp5,52 miliar, terutama didorong oleh beban keuangan senilai Rp9,6 miliar. Beban keuangan ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp11,33 miliar.

Adapun, rugi bersih perseroan turun 62,48 persen dari Juni 2018 yang senilai Rp14,71 miliar. “Operasional kami positif, sedangkan untuk bottom line kami berupaya menekan rugi. Tahun depan diharapkan bisa positif dan menjadi PR (pekerjaan rumah) kami untuk menyelesaikan beban keuangan,” kata Christofer.

Untuk kinerja di paruh kedua 2019, dia memproyeksikan dapat lebih baik dibandingkan dengan paruh pertama karena telah menjadi siklus tahunan. Hingga November mendatang, HRME pun menggenjot okupansi hotel yang dimiliki.

Sebagai informasi, sebelumnya perusahaan ini telah berdiri sejak 2007 dengan nama PT Citra Prestasi Abadi sebelum menggantinya dengan nama yang sekarang.

Proyek ikonik perseroan The Hermitage di Memteng masuk dalam jaringan mariott International dan mulai beroperasi pada 2015 dengan kepemilikan lahan seluas 4.036 meter persegi. Selain itu perseroan tercatat memiliki saham 30 persen di Royal Beach Seminyak Bali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top