SBR008 Masih Jadi Pilihan Investor Ritel

Instrumen yang jatuh tempo pada 10 September 2021 itu menawarkan kupon 7,2% dengan minimal pemesanan Rp1 juta dan maksimal pemesanan sebesar Rp3 miliar.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 19 September 2019  |  06:30 WIB
SBR008 Masih Jadi Pilihan Investor Ritel
Ilustrasi. Karyawan memesan surat berharga negara Saving Bond Retail (SBR) secara online. - Bisnis / Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Instrumen savings bond retail seri SBR008 yang dirilis Pemerintah pada 5 September 2019 masih menjadi pilihan investor ritel dengan capaian pemesanan Rp1,77 triliun sehari jelang batas pemesanan.

Dikutip dari laman investree.com, Rabu (18/9/2019), pemesanan SBR008 mencapai Rp1,77 triliun kendati target pemesanan sempat berubah yakni dari Rp2 triliun menjadi Rp3 triliun. Adapun, instrumen yang jatuh tempo pada 10 September 2021 itu menawarkan kupon 7,2 persen dengan minimal pemesanan Rp1 juta dan maksimal pemesanan sebesar Rp3 miliar.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto mengatakan meskipun nilai pemesanan instrumen surat berharga negara (SBN) ritel cukup dinamis, respons investor masih cukup baik. Menurutnya, masyarakat memang membutuhkan instrumen investasi kendati kebiasaan menabung telah tertanam sejak lama.

Sebagai gambaran, SBR008 merupakan instrumen ke-8 yang ditawarkan Pemerintah dari rencana 10 kali penawaran di tahun ini. Dari sisi pemesanan tertinggi untuk seri yang tak bisa diperjualbelikan, SBR005 yang ditawarkan pertama kali di tahun ini meraup pemesanan tertinggi yakni Rp4 triliun.Sejak penawaran itu, belum ada instrumen lain yang mampu mencapai realisasi tersebut. 

“Kalau saya lihat masih di atas 1,5 cukup direspons pasar,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (19/8).

Lebih lanjut, dia berujar, investor ritel mungkin masih belum memahami mengapa tren kupon yang ditawarkan pada SBN ritel terus susut. Dengan demikian, ekspektasi masyarakat bahwa instrumen buatan Pemerintah itu bisa menawarkan keuntungan lebih belum bisa terjawab.

Adapun, SBR005 hadir sebagai pembuka penerbitan SBN ritel di tahun ini dengan kupon 8,15 persen dan spread terhadap suku bunga acuan sebesar 215 basis poin. Kupon tersebut terus turun bahkan sebelum penurunan suku bunga acuan pada Juli yang terlihat pada instrumen SBR006 dengan kupon 7,95 persen dan spread terhadap suku bunga acuan sebesar 195 basis poin. Dari penawaran SBR006, pemesanannya mencapai Rp2,3 triliun.

“Masyarakat awam melihatnya, kok, turun kuponnya? Padahal kupon yang dikeluarkan mengikuti suku bunga saat produk itu dikeluarkan,” katanya.

Dia menyebut dari dua penawaran terakhir yakni ORI006 dan ST006, ORI006 berpeluang mendapat tanggapan yang lebih semarak dari kalangan investor karena sifatnya yang bisa diperjualbelikan. Alasannya, instrumen ini tak hanya menarik investor ritel, melainkan investor yang akan menggunakannya sebagai underlying asset produk reksa dana.

“Kalau ORI, akan lebih banyak [investor yang terlibat]. Ada [investor] yang nonritel yang main karena bisa digunakan untuk underlying asset reksa dana,” katanya.

Pemerintah sendiri menargetkan agar bisa meraup dana Rp60 triliun dari penerbitan SBN ritel. Dari tujuh kali penawaran, Pemerintah telah mendapatkan Rp38,32 triliun. Sementara itu, dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), per 17 September 2019, nilai SBN yang beredar sebesar Rp2.190,99 triliun dengan Rp51,93 triliun di antaranya dimiliki oleh investor ritel atau berkontribusi sebesar 2,37 persen.

OKTOBER & NOVEMBER

Rencananya, Pemerintah bakal menawarkan ORI006 pada 10 Oktober hingga 24 Oktober 2019. Terakhir, Pemerintah menawarkan ST006 pada 6 November hingga 20 November 2019.

Kepala Riset Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan semakin seringnya penerbitan instrumen SBN ritel, akan mengubah porsi uang investor ritel yang beredar. Menurutnya, produk yang paling riskan tergerus pasarnya oleh SBN ritel yakni deposito karena bunga yang lebih rendah dan pajak yang lebih tinggi.

Produk lain yang menurutnya bakal tergeser oleh keberadaan SBN ritel yakni reksa dana terproteksi. DIa berujar dari sisi jumlah saat ini memang belum terlihat dampaknya karena pasar reksa dana juga bertumbuh. Namun, bila dilihat dari karakter produknya, reksa dana terproteksi memiliki kemiripan dengan SBN ritel.

Pada reksa dana terproteksi, investor tak bisa mencairkan dananya hingga jatuh tempo yang biasanya di rentang 1 tahun hingga 5 tahun. Sementara itu, dari sisi pembayaran kupon tergantung pada portofolionya yang menyebabkan pembagian kupon di rentang sebulan sekali hingga enam bulan sekali.

“Jangka waktu reksa dana terproteksi mulai dari 1 tahun hingga 5 tahun. Dengan mekanisme ini, menjadi mirip dengan SBR,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top