Sektor Saham, BNI-AM Unggulkan Konsumsi dan Kesehatan

BNI Asset Management (BNI-AM) menjagokan dua sektor saham, yakni konsumsi (consumer) dan kesehatan (healthcare), yang dinilai berpeluang paling bullish sampai dengan akhir 2019.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 10 September 2019  |  17:29 WIB

Bisnis.com, SEMARANG—BNI Asset Management (BNI-AM) menjagokan dua sektor saham, yakni konsumsi (consumer) dan kesehatan (healthcare), yang dinilai berpeluang paling bullish sampai dengan akhir 2019.

Direktur BNI-AM Putut Endro Andanawarih menyampaikan, sektor konsumsi masih cenderung bertumbuh kendati terjadi fluktuasi di pasar global. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia didominasi atau lebih dari 50% ditopang konsumsi domestik.

“Sektor konsumsi masih menjadi penopang di tengah perlambatan global, sehingga kinerja dan saham emiten terkait tetap bertumbuh,” tuturnya di Semarang, Selasa (10/9/2019).

Selain itu, kinerja emiten di sektor kesehatan (healthcare) seperti farmasi dan rumah sakit cenderung positif. Program BPJS Kesehatan menjadi salah satu penopang sehingga masyarakat terdorong untuk ke RS dibandingkan puskemas.

Permintaan vitamin, obat, dan berbagai fasilitas kesehatan juga meningkat seiring dengan bertambahnya kesadaran masyarakat soal hidup sehat.

Putu menyebutkan, di samping sektor konsumsi dan kesehatan, sektor lain yang berpotensi menanjak sampai akhir tahun ini ialah infrastruktur dan komoditas. Infrastruktur merupakan salah satu lini yang terus mendapat perhatian dari pemerintah, sehingga aktivitas pengembangan berjalan masif.

Adapun, sektor komoditas terlihat mulai bangkit, setelah sebelumnya terpuruk akibat tekanan harga. Sebagai contoh, bila menghitung valuasi aset lahan emiten sawit berdasarkan harga sahamnya, harga lahan per m2 sudah terlampau rendah dibandingkan nilai riilnya.

Komoditas pertambangan pun mulai unjuk gigi seiring dengan membaiknya harga global, terutama minyak mentah.

Di tengah volatilitas pasar yang tinggi, sambung Putut, investor juga dapat memantau saham-saham lapis kedua dengan fundamental yang bagus. Fundamental solid menjadi patokan untuk menjaga tingkat risiko yang dihadapi.

Secara umum, sampai akhit 2019 kinerja IHSG diprediksi cenderung meningkat. Dalam skenario dasar, target IHSG 2019 adalah 6.600 dengan Price to Earning Ratio (PER) 15 kali, skenario bullish 7.049 (PER 16 kali), dan skenario bearish 6.178 (PER 14 kali).

Ada sejumlah faktor yang berpotensi mendorong laju pasar modal termasuk IHSG. Pertama, net buy asing mencapai Rp16 triliun per Agustus 2019, berbalik dari net sell Rp51 triliun pada 2018. Tren investasi asing cenderung menanjak sejak akhir 2018.

Kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang didominasi konsumsi domestik, sehingga lebih resistant terhadap fluktuasi pasar global.

Ketiga, defisit transaksi berjalan bakal semakin menyempit seiring dengan menurunnya impor sekaligus naiknya impor migas. SKK Migas menyatakan 8 kilang mulai beroperasi pada semester II/2019, sehingga bakal mendorong sisi ekspor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, pt bni asset management

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top