Platform Perdagangan EBUS Rampung Awal Tahun Depan

Bursa Efek Indonesia menyampaikan pengembangan platform perdagangan elektronik efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) akan rampung pada kuartal I/2020.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 05 September 2019  |  07:14 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Bursa Efek Indonesia menyampaikan pengembangan platform perdagangan elektronik efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) akan rampung pada kuartal I/2020.

 Terbaru, bursa secara resmi menunjuk AxeTrading Ltd. untuk mengembangkan platform perdagangan elektronik untuk pasar alternatif tersebut.

Inarno Djajadi, Direktur Utama BEI, menyampaikan bahwa perdagangan surat utang negara (SUN) dan obligasi korporasi di pasar sekunder selama ini berlangsung di luar bursa (over-the-counter/OTC). 

“Bursa berinisiatif mengambil peran sebagai PPA [Penyelenggara Pasar Alternatif] untuk mengelola perdagangan OTC surat utang di pasar sekunder ini karena peran bursa sebagai PPA sangat strategis,” kata Inarno melalui siaran pers, Rabu (4/9/2019).

Dirinya menjelaskan, dengan didukung oleh teknologi terkini dan fitur-fitur yang berfokus pada kebutuhan pasar, BEI yakin dapat menggeser aktivitas perdagangan EBUS melalui OTC untuk dilaksanakan melalui platform baru ini nantinya.

Adapun, platform elektronik pasar alternatif ini akan menawarkan fleksibilitas mekanisme perdagangan dan menyediakan fitur untuk meningkatkan chance-to-trade bagi pelaku pasar.

Selain itu, platform ini juga akan meningkatkan transparansi price discovery kepada pelaku pasar serta kemudahan pelaporan kepada otoritas. 

“Secara singkat, dapat kami katakan bahwa platform perdagangan elektronik PT BEI akan menjadi motor penggerak pasar sekunder surat utang Indonesia dan akan mendukung OJK, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia untuk memonitor perdagangan surat utang di Indonesia,” jelas Inarno.

Ralf Henke, Chief Executive Officer AxeTrading, pun menyampaikan antusiasmenya terhadap kejasama jangka panjang dengan BEI dan berkomitmen membantu membentuk pasar surat utang Indonesia yang lebih efisien. 

Dalam waktu bersamaan, kemitraan dengan bursa sekaligus membuka kesempatan bagi AxeTrading untuk mengambil bagian di dalam perubahan tren perdagangan surat utang di Tanah Air.

“AxeTrading menawarkan teknologi dan fitur yang dibutuhkan para pelaku perdagangan surat utang di negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan termasuk negara yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia,” kata Ralf.

Lebih lanjut, Ralf menyampaikan bahwa pihaknya juga memiliki aplikasi AxeTrader yang diperuntukkan bagi pelaku pasar obligasi di Indonesia yang memungkinkan para pelaku terkoneksi  dengan pelaku perdagangan surat utang di  tempat lain.

Adapun penunjukan AxeTrading untuk mengembangkan platform perdagangan EBUS merupakan tindak lanjut dari izin yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada BEI sebagai Penyelenggara Pasar Alternatif (PPA). Sebagai langkah pertama, BEI berkomitmen menyediakan platform perdagangan elektronik pasar alternatif yang dapat mendukung likuiditas dan transparansi harga di pasar sekunder perdagangan EBUS, terutama perdagangan SUN yang diterbitkan oleh Kemenkeu RI.

AxeTrading terpilih menjadi mitra oleh BEI dari banyak calon mitra global lainnya karena keahlian dan pengalaman perseroan dalam pengembangan platform perdagangan elektronik surat utang selama 10 tahun terakhir di pasar internasional.

Berdasarkan data Asian Development Bank, saat ini pasar surat utang Indonesia bernilai US$217 miliar dan akan terus bertumbuh. 

Untuk mengelolanya, pengembangan platform elektronik perdagangan EBUS di pasar sekuner ini dinilai sangat dibutuhkan.

Ke depannya, BEI dan AxeTrading akan berkolaborasi bersama para diler untuk menghadirkan sebuah platform perdagangan elektronik yang akan meningkatkan likuiditas di pasar sekuder. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Indeks BEI

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top