PM Inggris Kalah dalam Pemungutan Suara Brexit, Poundsterling Rebound

Mata uang poundsterling rebound pada hari Rabu (4/9/2019) setelah anggota parlemen Inggris mengalahkan Perdana menteri Boris Johnson dalam pemungutan di parlemen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 September 2019  |  15:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang poundsterling rebound pada hari Rabu (4/9/2019) setelah anggota parlemen Inggris mengalahkan Perdana menteri Boris Johnson dalam pemungutan di parlemen.

Pound yang rebound setelah merosot ke level terendah dalam tiga tahun terakhir tersebut kemungkinan akan mendahului volatilitas lebih besar karena pertempuran atas Brexit memasuki fase penting lainnya.

Anggota parlemen memenangkan pemungutan suara diperkirakan akan memperkenalkan RUU di parlemen pada hari Rabu dan berusaha untuk mencegah Inggris meninggalkan Uni Eropa pada 31 Oktober tanpa pengaturan transisi (no-deal Brexit).

Kekalahan dalam pemungutan suara ini mendorong PM Boris untuk mendorong pemilihan cepat. Mosi untuk pemilihan umum ini akan diajukan pada hari Rabu (4/9).

Setelah anjlok di bawah US$1,20 ke level terlemah dalam tiga tahun, poundsterling menguat 0,5 persen ke level US$1,2157. Terhadap euro, pound melemah 0,4 persen menjadi 90,78 pence.

Volatilitas tersirat pound mereda dari level tertinggi tiga tahun yang dicapai pada hari Selasa ketika ketegangan investor sedikit tenang, namun masih dalam tren meningkat.

Peningkatan tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor mengingat bahwa kekalahan tidak serta merta menyelesaikan persoalan Brexit, dengan berbagai kemungkinan yang ada, mulai dari keluar tanpa kesepakatan higga membatalkan Brexit.

Pemilihan umum cepat akan meningkatkan ketidakpastian dan membuka serangkaian skenario baru, yang salah satunya dapat menjadikan pemimpin oposisi Jeremy Corbyn sebagai perdana menteri. Pada analis berpendapat hal itu dapat merugikan pound.

Sebagian besar analis memperkirakan untuk pound hanya bersifat sementara dan memproyeksikan rintangan lebih lanjut untuk mata uang Inggris tersebut.

"Kami mencatat bahwa kemungkinan pemilihan awal bukan pertanda baik untuk pound," kata analis ING dalam sebuah catatan.

"Tidak hanya ketidakpastian tentang hasil pemilihan masih tinggi, tetapi alternatif yang paling mungkin tampaknya tidak menawarkan kesempatan untuk pound," lanjutnya, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pound sterling, Brexit

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top