Bursa Asia Terbebani Perang Dagang, Gejolak Brexit Lumpuhkan Pound Sterling

Bursa Eropa kompak melemah bersama bursa Asia pada perdagangan siang ini, Selasa (3/9/2019), saat nilai tukar pound sterling melorot terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah pergolakan mengenai Brexit (perpisahan Inggris dari Uni Eropa).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 03 September 2019  |  15:29 WIB
Bursa Asia Terbebani Perang Dagang, Gejolak Brexit Lumpuhkan Pound Sterling
Ilustrasi brexit - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Eropa kompak melemah bersama bursa Asia pada perdagangan siang ini, Selasa (3/9/2019), saat nilai tukar pound sterling melorot terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah pergolakan mengenai Brexit (perpisahan Inggris dari Uni Eropa).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 melemah 0,6 persen pada pukul 08.17 pagi waktu London (pukul 14.17 WIB) dan indeks MSCI Asia Pacific turun 0,3 persen. Pada saat yang sama, indeks futures S&P 500 meluncur 0,9 persen.

Penurunan saham pertambangan dan ritel mendorong pelemahan indeks Stoxx Europe 600. Di sisi lain, meski sebagian besar indeks saham di Asia terkoreksi, bursa saham di Tokyo dan Shanghai mampu membukukan kenaikan moderat.

Di pasar mata uang, nilai tukar pound sterling melorot 0,7 persen ke level US$1,1981 dan nilai tukar euro turun 0,3 persen ke posisi US$1,0942.

Pelemahan kedua mata uang utama tersebut mengangkat Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,2 persen. Sebaliknya, indeks MSCI Emerging Markets Currency terkoreksi 0,4 persen. Di tengah kondisi ini, nilai tukar yen Jepang menguat 0,1 persen ke posisi 106,09 per dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg, nilai tukar pound sterling jatuh di bawah level US$1,20, untuk pertama kalinya sejak 2017, setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengancam akan mengadakan pemilihan umum dini.

PM Inggris Boris Johnson mengeluarkan ultimatum Brexit terakhir dengan mengatakan akan mengadakan pemilu bulan depan, jika Majelis Tinggi menyetujui RUU yang diusulkan kelompok lintas partai untuk memblokir pilihan tanpa kesepakatan saat meninggalkan Uni Eropa.

Dalam pidatonya, Johnson mengatakan ‘tidak ada alasan’ keluarnya Inggris dari Uni Eropa tidak akan terjadi pada tanggal 31 Oktober.

Johnson juga mengatakan bahwa pada dasarnya tidak menginginkan pemilu, tetapi secara terbuka mengancam akan memajukan pemilu pada 14 Oktober jika penentangnya di parlemen tidak mundur.

Perang Dagang AS-China

Sementara itu, pasar tetap rentan terhadap konflik perdagangan Amerika Serikat-China dengan sedikitnya progres menuju resolusi. Ada kesan ketidakpercayaan di kedua belah pihak.

Para pejabat pemerintah dari dua ekonomi terbesar di dunia tersebut dikabarkan mengalami kesulitan untuk menyetujui kapan harus mengadakan pertemuan yang telah direncanakan untuk bulan ini dan mengenai persyaratan dasar untuk kembali menjalin hubungan.

"Kita memiliki begitu banyak masalah di seluruh dunia, mulai dari perang dagang AS-China dan Brexit. Tapi investor tampaknya mulai terbiasa dengannya,” ujar Hiroyuki Ueno, pakar strategi senior di Sumitomo Mitsui Trust Asset Management.

"Tidak ada yang benar-benar berpikir Washington dan Beijing akan menyelesaikan masalah. Namun, selama ekonomi AS terus berjalan, harga saham akan mengalami penurunan terbatas,” tambahnya, dikutip dari Reuters.

Keresahan pasar juga tak lepas dari ketegangan di Hong Kong. Dalam suatu jumpa pers, Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam mengecam perihal bocornya rekaman audio dalam pertemuan yang dihadirinya dan menegaskan tidak pernah meminta izin kepada pemerintah China untuk mengundurkan diri.

Konferensi pers pada hari ini itu digelar menjelang briefing yang direncanakan oleh Kantor Urusan Hong Kong dan Makau, badan teratas China yang mengatur kota itu, pada Selasa sore waktu setempat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, Brexit, perang dagang AS vs China

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top