Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Tertekan Kondisi Global

Pasar obligasi diprediksi berpotensi melemah akibat tertekan kondisi global pada perdagangan hari ini, Jumat (30/8/2019).
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 30 Agustus 2019  |  08:36 WIB
Pasar Obligasi Berpotensi Melemah Tertekan Kondisi Global
obligasi

Bisnis.com, JAKARTA--Pasar obligasi diprediksi berpotensi melemah akibat tertekan kondisi global pada perdagangan hari ini, Jumat (30/8/2019).

Dikutip dari hasil risetnya, Jumat (30/8/2019), Direktur Riset Maximilianus Nico Demus mengatakan kondisi pasar obligasi saat ini tengah menahan gejolak kondisi ekonomi global. Oleh karena itu, dia menyebut pelaku pasar masih perlu menguji daya tahan pasar terhadap tekanan global. 

Terlebih, kendati China-AS bakal melakukan pembahasan tentang penyelesaian perang dagang, masih terdapat tanda tanya bagaimana nasib akhir perang dagang pascapertemuan itu. Seperti diketahui, sebelumnya China dan AS saling menyerang melalui pengenaan tarif. China berencana mengenakan tarif terhadap mobil dan suku cadang kendaraan asal AS.

Sementara itu, AS menaikkan bea masuk terhadap barang asal China sebesar US$250 miliar dari 25% menjadi 30%. AS juga menaikkan tarif bea masuk untuk komoditas lain senilai US$300 miliar dari 10% menjadi 15%.

Menurutnya, pada perdagangan hari ini pergerakan pasar bakal berada di rentang 35 basis poin sampai
60 basis poin. 

"Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah. Pelemahan ini masih wajar, sesuai dengan analisis secara teknikal, dan ruang pelemahan masih terbuka cukup lebar hingga saat ini," ujarnya. 

Lebih lanjut, dia menuturkan optimisme  pelaku usaha muncul dengan berlanjutnya pembicaraan soal perang dagang. Pasalnya, 160 perusahaan AS telah menyatakan keberatannya dengan proteksi yang dilakukan terhadap produk China. 

Namun, Trump tidak memberikan sinyal cukup jual bahwa pertemuan pada Kamis pekan depan bakal berjalan mulus. Padahal, sikap China cenderung menanti sikap AS karena China hanya membalas serangan-serangan yang dilancarkan AS. 

Dengan kondisi ini, Maximilianus menyarankan agar investor tetap waspada terhadap kelanjutan perang dagang.

"Kami merekomendasikan wait and see," katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top