Tertahan Bursa Saham China, Indeks MSCI Asia Pacific Menguat Tipis

Bursa saham Asia menguat dengan hati-hati pada perdagangan Rabu (28/8/2019), meskipun kekhawatiran yang lebih dalam mengenai ekonomi global dan perdagangan terus membebani sentimen pasar.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  15:38 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat dengan hati-hati pada perdagangan Rabu (28/8/2019), meskipun kekhawatiran yang lebih dalam mengenai ekonomi global dan perdagangan terus membebani sentimen pasar.

Indeks MSCI Asia Pacific terpantau menguat 0,2 persen pada pukul 14.56 WIB, tertahan oleh indeks Shanghai Composite yang melemah 0,29 persen, sedangkan indeks CSI 300 juga melemah 0,38 persen.

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang menguat masing-masing 0,04 dan 0,11 persen, indeks Kospi menguat 0,86 persen, sedangkan indeks Hang Seng melemah 0,13 persen.

Perselisihan perdagangan antara AS dan China saat ini berada di tahun kedua dan menempatkan tekanan yang lebih besar pada ekonomi global, yang memaksa para pembuat kebijakan untuk merespons dengan pemotongan suku bunga dan langkah-langkah stimulus untuk mendorong pertumbuhan.

"Obligasi sedang reli dan ada penguatan terbatas untuk saham sekarang," kata Kiyoshi Ishigane, kepala fund manager di Mitsubishi UFJ Kokusai Asset Management Co di Tokyo, seperti dikutip Reuters.

"Tapi saya belum mau menyerah pada ekuitas. Federal Reserve AS dan pejabat di negara-negara lain hanya perlu berbuat lebih banyak untuk merangsang ekonomi mereka, yang pada akhirnya akan mencegah pelemahan," lanjutnya.

Indeks Kospi mencatat kenaikan harian terbesar dalam sepekan karena investor melakukan buyback menyusul pelemahan hari sebelumnya karena kekhawatiran tentang perubahan bobot dalam indeks MSCI.

Sementara itu, China meluncurkan langkah-langkah untuk membantu meningkatkan konsumsi guna menopang pertumbuhan ekonomi, termasuk di antaranya kemungkinan penghapusan pembatasan pembelian mobil.

Bursa Saham China awalnya dibuka menguat pada hari Rabu tetapi kemudian berbalik arah ke zona merah, menunjukkan masih ada beberapa kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi.

Fokus investor tertuju pada 1 September, ketika tahap pertama tarif AS atas barang-barang China senilai US$300 miliar dijadwalkan mulai berlaku. Sebagai tanggapan, China telah meluncurkan tarif untuk produk impor AS yang mulai berlaku pada hari yang sama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top