Penerbitan Surat Utang Korporasi Diproyeksi Stagnan

Realisasi penerbitan surat utang korporasi pada Januari-Juli 2018 menyentuh Rp92 triliun sedangkan pada Januari-Juli 2019 telah mencapai Rp79,98 triliun.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  11:00 WIB
Penerbitan Surat Utang Korporasi Diproyeksi Stagnan
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Penerbitan surat utang korporasi pada tahun ini diproyeksi stagnan karena sejumlah sentimen. Berikut sentimennya.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fikri C Permana mengatakan pada awal tahun, pihaknya masih memperkirakan penerbitan surat utang korporasi sepanjang tahun ini akan tumbuh di kisaran 3% hingga 5% dibandingkan realisasi tahun lalu.

Sebagai gambaran, secara nasional, surat utang korporasi yang terbit sepanjang 2018 menyentuh angka Rp132,42 triliun.

Kendati demikian, kondisi yang sulit pada tahun ini membuatnya menjadi lebih realistis dengan asumsi optimistis realisasi nilai surat utang korporasi sama dengan tahun lalu atau berada di kisaran Rp120 triliun hingga Rp130 triliun.

“Secara total pada 2018, Rp132 triliun. [Proyeksi pada] awal tahun masih akan naik 3% sampai 5%. Melihat situasi sekarang, [capaiannya] sama dengan tahun lalu saja sudah senang,” katanya.

Menurutnya, kondisi pada tahun ini tergolong cukup berat bagi korporasi untuk menerbitkan surat utangnya. Adapun beberapa sentimennya, yakni pertama, suku bunga pada awal tahun cenderung tinggi sehingga korporasi memilih menunda penerbitan surat utang karena beban bunga yang tinggi.

Sebagai gambaran, dia menyebut pada paruh pertama 2018, imbal hasil surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun berada di kisaran 6% hingga 7%. Sementara itu, pada periode yang sama pada 2019, yield SUN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,5% hingga 8%.

Akibat sentimen itu, tak heran bila realisasi penerbitan surat utang pada tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Realisasi penerbitan surat utang korporasi pada Januari-Juli 2018 menyentuh Rp92 triliun sedangkan pada Januari-Juli 2019 telah mencapai Rp79,98 triliun.

“Situasinya berbeda. [Pada] semester I/2018, yield SUN tenor 10 tahun 6% sampai 7% sedangkan pada semester I/2019 di kisaran 7,5% sampai 8%. Ini menjadi hambatan utama penerbitan [surat utang korporasi] pada tahun ini,” kata Fikri.

Kedua, pada Juni hingga Juli, tensi perang dagang China-AS cenderung meningkat seiring dengan pernyataan Trump untuk mengenakan tarif barang impor asal China dan ketidakpastian kelanjutan proses negosiasi. Hal itu, katanya, meningkatkan premium pasar utang. Bahkan, tutur Fikri, dampaknya tak hanya dirasakan pasar obligasi tetapi juga ke nilai tukar rupiah.

Ketiga, akibat kondisi tersebut, investor pun melakukan perubahan aset yakni dengan melirik logam mulia sehingga harganya kini terkerek naik.

“Hal lain dari sisi perdagangan menjadikan beberapa investor mulai switching asset,” katanya.

Keempat, sentimen yang juga harus diwaspadai yakni dampak kerusuhan di Hong Kong dan krisis Argentina. Menurutnya, kisruh di Hong Kong menjadi sentimen negatif bagi pasar Asia di mata investor. Sementara itu, krisis Argentina akan memberikan dampak secara tidak langsung kepada Indonesia sebagai salah satu negara berkembang.

“Ada risiko dari Hong Kong dan Argentina. Biarpun tidak berdampak langsung ke Indonesia,” katanya.

Di sisi lain, peluang peningkatan penerbitan surat utang korporasi didukung rencana penurunan suku bunga lanjutan oleh The Fed. Dengan asumsi penurunan suku bunga acuan oleh The Fed, peluang penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia kian terbuka. Oleh karena itu, bila suku bunga acuan kembali turun, korporasi bisa menerbitkan surat utang dengan beban bunga yang lebih rendah.

“Penurunan suku bunga acuan dan peningkatan peringkat Indonesia, dalam waktu cepat akan mendorong surat utang korporasi,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top