Kisruh Jababeka, Sugiharto Ungkap Alasan Penunjukan Dirinya Sebagai Dirut KIJA

Direktur Utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. versi RUPS 26 Juni Sugiharto menyebutkan penunjukan dirinya sebagai nahkoda yang baru karena pemegang saham menilai perseroan kurang berkembang dan tidak transparan.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  19:47 WIB
Kisruh Jababeka, Sugiharto Ungkap Alasan Penunjukan Dirinya Sebagai Dirut KIJA
Direktur Utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. versi RUPS 26 Juni Sugiharto. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. dinilai belum maksimal dalam memanfaatkan aset yang dimiliki perseroan untuk menambah nilai bagi pemegang saham.

Direktur Utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. versi RUPS 26 Juni Sugiharto menyebutkan penunjukan dirinya sebagai nahkoda yang baru karena pemegang saham menilai perseroan kurang berkembang dan tidak transparan.

“KIJA memang berkembang, tapi grow untuk siapa? Manajemen atau pemegang saham? Fungsi saya disini untuk menambah nilai pemegang saham dan transparasi,” katanya pada Senin (12/8/2019).

Sugiharto mengatakan perusahaan memiliki potensi besar dengan land bank seluas 3.800 hektare. Namun, dari segi penjualan emiten berkode saham itu cenderung lemah dengan rasio 2,6 persen. Sementara para kompetitor dia sebut sudah mencapai 8 persen. Selain itu laba bersih KIJA juga anjlok 52 persen menjadi Rp 40,97 miliar pada 2018 dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar Rp 84,86 miliar.

Mantan Menteri BUMN ini pun mengatakan nilai saham KIJA cenderung stagnan di kisaran Rp300 per lembar. Dari sisi manajemen juga tidak membagikan deviden dalam 3 tahun terakhir. Selain itu tidak ada transparansi tentang alasan stagnannya kinerja perseroan.

“Ada 11.000 investor yang khawatir dengan kinerja. KIJA perlu penguatan jadi ini bukan hostile [take over],” tegasnya.

Direktur Utama Jababeka versi RUPS 26 Juni, Sugiharto bersama Presiden Direktur PT Pratama Capital Assets Management Iwan Margana saat memberikan penjelasan terkait dengan kisruh pergantian manajemen.

Islamic Development Bank yang menjadi pendukung utama dalam pencalonan direktur utama, lanjutnya, menginginkan ada peningkatan kinerja dan transparansi. Pasalnya saham yang mandek ditengarai kurang lancarnya informasi antara kreditur dan shareholder.

Sebelumnya, Corporate Secretary KIJA Muljadi Suganda mengatakan perseroan mencatakan laba bersih pada semester pertama 2019 sebesar Rp49,3 miliar, membaik dibandingkan dengan rugi bersih sebesar Rp249,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Alasan utama peningkatan ini adalah  karena dampak  pergerakan selisih kurs yang pada  semester  pertama  2019 dibukukan laba selisih kurs sebesar Rp90 miliar, dibandingkan rugi selisih kurs sebesar Rp235,4 miliar yang tercatat pada semester pertama 2018.

Perseroan  juga mencatat  prapenjualan real  estate Rp758,9 miliar pada semester 1-2019. Jumlah tersebut setara dengan 47 persen dari total target pada 2019 sebesar Rp1,6 triliun.

Penunjukan Sugiharto sebagai Direktur Utama Jababeka dari RUPS 26 Juni ditentang manajemen lama di bawah Budianto Liman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jababeka

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top