Segmen Broiler Menekan Laba Malindo Feedmill (MAIN)

Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk PT Malindo Feedmil Tbk. (MAIN) turun 6,14 persen dari Rp155,46 miliar pada semester I/2018 menjadi Rp145,91 miliar.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  09:49 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Segmen broiler ditengarai menjadi penyebab utama penurunan laba PT Malindo Feedmil Tbk. pada semester I/2019.

Dalam laporan keuangan semester I/2019 yang tidak diaudit, emiten berkode saham MAIN tersebut mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar Rp3,87 triliun atau naik 26,04 persen dari posisi tahun lalu yakni Rp3,07 triliun.

Akan tetapi laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru turun 6,14 persen dari Rp155,46 miliar pada semester I/2018 menjadi Rp145,91 miliar.

Corporate Secretary Malindo Feedmil Andre Andreas Hendjan mengatakan tertekannya laba disebabkan oleh segmen broiler selama 3 bulan terakhir. Anjloknya harga di tingkat peternak sedikit banyak ikut memengaruhi kinerja perseroan.

"Fenomena anjloknya harga ayam ditingkat peternak ayam pada kuartal II/2019 merupakan [faktor terbesar] penekan kinerja MAIN segmen broiler," katanya kepada Bisnis.cocm, belum lama ini.

Turunnya harga broiler disebabkan berlebihnya pasokan ayam dan anak ayam umur sehari atau day old chicken [DOC] pada saat musim Ramadan yang tidak diimbangi dengan besarnya permintaan.

Menilik laporan keuangan yang diterbitkan oleh perseroan, segmen yang berkontribusi besar atas pendapatan adalah pakan yakni Rp2,53 triliun. Jumlah tersebut naik 33,86 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni Rp1,89 triliun.

Sementara segmen DOC menyumbang Rp722,11 miliar naik 31,02% dari posisi tahun lalu Rp511,12 miliar. Lalu segmen ayam pedaging Rp432,60 miliar turun 3,59 persen dibandingkan semester II/2018 sebesar Rp448,74 miliar.

Bila ditotal keduanya menyumbang Rp1,15 triliun pada semester I/2019 sedangkan pada periode yang sama tahun lalu hanya Rp959,86 miliar.

Adapun segmen makanan olahan menyumbang Rp72,40 miliar naik tipis 2,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp70,31 miliar. Kemudian segmen lain-lain Rp111,89 juta naik 4,79 persen dari posisi Rp106,77 juta pada tahun lalu.

Kendati secara keseluruhan mengalami kenaikan beban pokok penjualan perseroan juga mengalami kenaikan 29,05 persen menjadi Rp3,42 triliun dari posisi sebelumnya Rp2,65 triliun.

Akibatnya laba bruto yang dikantongi MAIN semester I/2019 sebesar Rp448,36 miliar tidak jauh berbeda dengan laba bruto semester I/2018 Rp422,01 miliar. Hanyak naik 6,24 persen sedangkan pendapatan bersih terdongkrak naik 26,04 persen.

Adapun penyumbang terbesar adalah biaya penggunaan bahan baku sebesar Rp3,04 triliun atau naik Rp733 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp2,31 triliun.

Kendati demikian, Andre masih memandang semester II/2019 dengan cerah. Utamanya, segmen broiler baik ayam pedaging dan DOC akan berangsur membaik berkat kebijakan pemerintah memotong jumlah pasokan ayam pedaging.

"Harga sudah berangsur baik menuju normal [Rp19.000/kg untuk ayam pedaging]," ungkapnya.

Pada semester II/2019, lanjutnya, MAIN akan berupaya maksimal untuk meningkatkan kinerja perseroan.

"[Kami akan] penetrasi pasar dan maksimalkan kapasitas produksi yang ada, dan rencananya pada akhir tahun ini kami membangun pabrik pakan baru," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, malindo feedmill

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top