Bahana Sekuritas Jagokan Sektor Perbankan dan Infrastruktur, Apa Alasannya?

Sektor konsumer dinilai masih tumbuh cukup baik meskipun ada hambatan dari faktor global.
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  11:18 WIB
Bahana Sekuritas Jagokan Sektor Perbankan dan Infrastruktur, Apa Alasannya?
Karyawan memantau pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan manajer investasi, di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Bahana Sekuritas menilai sektor perbankan dan infrastruktur masih menjanjikan di tengah risiko perlambatan laju ekonomi domestik dan tren penurunan suku bunga acuan.

Lucky Ariesandi, Kepala Riset Bahana Sekuritas, menuturkan sektor konsumer masih tumbuh cukup baik meskipun ada hambatan dari faktor global. Mesin pertumbuhan ekonomi ditopang oleh masih kuatnya konsumsi masyarakat yang ikut didorong oleh pengeluaran negara untuk belanja pemilu, serta adanya kenaikan gaji pokok pegawai negeri sipil (PNS), TNI dan Kepolisian sebesar 5% sejak Januari 2019, yang pencairannya sudah dilakukan pada April 2019.

‘’Namun perlu dicermati, apakah konsumsi masih akan tetap kuat dengan kemungkinan harga komoditas diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada kuartal-kuartal selanjutnya, dengan perang dagang yang masih berlanjut,’’ papar Lucky dalam keterangan resmi, Selasa (6/8/2019).

Menurutnya, permasalahan pemadaman listrik yang sedang terjadi saat ini di wilayah Jawa, bila berkepanjangan, tentunya akan berisiko bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2019.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat geliat perekonomian pada kuartal dua 2019, tumbuh sebesar 5,05% bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini adalah pertumbuhan ekonomi terendah sejak 2015, dalam periode yang sama. Bahkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal dua lebih rendah dari pencapaian kuartal pertama yang mampu tumbuh sebesar 5,07% secara tahunan.

Lucky menambahkan babak baru kebijakan moneter longgar telah dimulai BI, setelah sejak Mei 2018, Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Pada Juli 2019, Bank Indonesia telah memotong suku bunga acuan atau BI 7-Day Repo Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,75% dari yang sebelumnya sebesar 6%.

Ke depan, Bank Indonesia memandang masih terbuka ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.

Bila sebelumnya BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di bawah titik tengah kisaran 5%-5,4%, dengan masih terbukanya penurunan suku bunga lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini diperkirakan bisa berada di atas 5,2%.

Bahana Sekuritas menilai sektor perbankan khususnya bank yang memiliki current account and saving account (CASA) atau yang lebih dikenal dengan dana murah sedikit akan diuntungkan karena beban untuk biaya dana akan turun, juga bank yang memiliki loan to deposit ratio (LDR) tinggi akan mendapat dampak positif karena bunga pinjaman masih relatif tinggi.

Sektor infrastruktur terkait telekomunikasi dan konstruksi juga akan mendapat keuntungan karena sektor-sektor ini memiliki utang yang cukup besar, dengan adanya trend penurunan suku bunga ini, maka beban biaya pinjaman akan turun.

‘’Sektor properti dan otomotif yang sangat sensitif terhadap suku bunga juga akan diuntungkan karena penurunan bunga kredit akan mendongkrak penjualan properti, mobil dan motor,’’ papar Lucky.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, saham

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top