Ini Penyebab IHSG Anjlok 2,59 Persen Menurut MNC Sekuritas

IHSG anjlok 2,59 persen ke level 6.175 pada penutupan perdagangan Senin (5/8/2019). Penurunan tersebut pun merupakan yang terdalam sejak awal tahun.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 05 Agustus 2019  |  19:00 WIB
Ini Penyebab IHSG Anjlok 2,59 Persen Menurut MNC Sekuritas
Pengunjung beraktivitas di dekat layar papan elektronik yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (23/10). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Sentimen perang dagang yang mencuat lagi dan kekecewaan investor terhadap data PDB kuartal II/2019 telah memberatkan langkah IHSG sepanjang hari perdagangan Senin (5/8/2019).

IHSG anjlok 2,59 persen ke level 6.175 pada penutupan perdagangan Senin (5/8/2019). Penurunan tersebut pun merupakan yang terdalam sejak awal tahun.

Secara year-to-date, indeks kembali ke zona merah dengan pelemahan sebesar 0,30 persen.

Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp1,10 triliun sepanjang hari perdagangan. Sejak awal tahun, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) senilai Rp63,73 triliun.

Head of Research Institusi MNC Sekuritas, Thendra Crisnanda menjelaskan, pelemahan IHSG dimulai ketika tensi perang dagang antara AS—China kembali memanas pada akhir pekan lalu.

Adapun, Presiden AS Donald Trump akan memberlakukan penambahan kenaikan tarif sebesar 10 persen untuk produk impor asal China yang senilai US$300 miliar per 1 September 2019.

Trump mengatakan bahwa tarif 10 persen tersebut merupakan tindakan jangka pendek dan besarannya dapat dinaikkan secara bertahap menjadi lebih dari 25 persen.

“Sentimen negatif ini semakin bertambah pascarilis data PDB Indonesia yang bertumbuh flat di angka 5,05 persen yoy pada kuartal II/2019,” kata Thendra kepada Bisnis.com, Senin (5/8/2019).

Badan Pusat Statistik merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II/2019 hanya tumbuh 5,05 persen secara yoy dari sebelumnya 5,07 persen.

Sepanjang semester I/2019, PDB Indonesia tercatat 5,06 persen, melemah dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 5,17persen.

Komponen ekspor barang dan jasa pun terpantau mengalami kontraksi sebesar 0,79 persen pada kuartal II/2019. Sementara itu, kontributor terbesar terhadap PDB masih berasal dari komponen pengeluaran konsumsi pemerintah yang tumbuh 36,28 persen.

Thendra menambahkan, data terebut memberikan indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik dapat berlanjut sampai akhir tahun dan bahkan hingga 2020.

“Kondisi tersebut berkorelasi dengan ekspektasi pertumbuhan pendapatan korporasi Indonesia yang berpotensi bertumbuh hanya 6 persen—8 persen yoy pada tahun ini,” imbuh Thendra.

Dengan begitu, dirinya menilai IHSG akan bergerak volatil hingga tahun depan. MNC Sekuritas pun masih mempertahankan target indeks pada level 6.334 sampai akhir tahun.

Kendati demikian, Thendra mengingatkan, secara taktikal penurunan IHSG ke level 6.100—6.200 dapat menjadi level entry yang baik saat ini dengan konsentrasi pada saham-saham di sektor konsumer dan ritel, seperti HMSP, GGRM, dan RALS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, saham

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top