Rupiah Kembali ke Zona Merah

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (30/7/2019), rupiah berada di level Rp14.028 per dolar AS, melemah 0,057 persen atau 8 poin.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  23:06 WIB
Rupiah Kembali ke Zona Merah
Nasabah menghitung uang di sebuah Money Changer, di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Himawan L. Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (30/7/2019) seiring dengan sikap pasar yang cenderung berhati-hati menanti pertemuan kebijakan oleh The Fed. Namun, realisasi investasi yang dirilis positif berhasil membatasi pelemahan mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (30/7/2019), rupiah berada di level Rp14.028 per dolar AS, melemah 0,057 persen atau 8 poin.

Mengutip riset PT Asia Trade Point Futures, nilai tukar rupiah berhasil membatasi penurunannya, setelah pada sesi perdagangan pagi mata uang Garuda sempat melemah hingga menyentuh level Rp14.035 per dolar AS.

“Realisasi investasi dalam negeri yang baru dirilis oleh BKPM tampaknya akan membuat nilai tukar rupiah bergerak lebih baik dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya,” tulis PT Asia Trade Point Futures seperti dikutip dalam publikasi risetnya, Selasa (30/7/2019).

Berdasarkan laporan BKPM, realisasi investasi Indonesia pada triwulan II/2019 berhasil tumbuh 13,7 persen menjadi Rp200,5 triliun dibandingkan dengan Rp176,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, sepanjang semester I/2019, total investasi mencapai Rp395,6 triliun atau tumbuh 9,4 persen dibandingkan dengan semester I/2018 yang hanya sebesar Rp361,6 triliun.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim juga mengatakan prospek penanaman modal asing (PMA) yang tumbuh meyakinkan, menumbuhkan ekspektasi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan semakin stabil.

“Pada akhirnya, secara fundamental rupiah akan kembali jadi incaran bagi pelaku pasar,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya.

Selain itu, Ibrahim mengatakan bahwa ketika (PMA) tumbuh, maka akan membuat suplai dolar AS di dalam negeri menjadi relatif tinggi sehingga membuat nilainya menjadi lebih murah terhadap rupiah.

Akibat kuatnya PMA tersebut, Ibrahim mengatakan rupiah sempat bergerak menguat cukup baik mencapai level Rp14.010 per dolar AS. Dia memprediksi rupiah bergerak menguat tipis di kisaran Rp13.996 per dolar AS hingga Rp14.035 per dolar AS pada perdagangan Rabu (31/7/2019).

Di sisi lain, Analis PT Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan bahwa pada perdangan kali ini, rupiah cenderung bergerak flat akibat pasar yang menanti kepastian pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed pada akhir bulan ini.

“Pasar menanti apakah The Fed akan cukup agresif atau tidak untuk memangkas suku bunganya. Normalnya pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, tetapi masih ada kemungkinan juga bahwa The Fed dapat memangkas hingga 50 basis poin,” ujar Yudi saat dihubungi Bisnis, Selasa (30/7/2019).

Adapun, kebijakan moneter beberapa bank sentral di dunia serentak hampir dilakukan pada pekan ini. European Central Bank (ECB) telah terlebih dahulu melakukan pertemuan dan menetapkan untuk bertahan pada suku bunganya saat ini, tetapi membuka peluang terhadap pelonggaran.

Senada, Bank of Japan baru saja menyelesaikan pertemuannya hari ini dan memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya dengan mempertimbangkan akan memberikan stimulus jika diperlukan.

Kendati demikian, Yudi mengatakan, perhatian pasar saat ini masih lebih dominan terhadap keputusan The Fed. Oleh karena itu, dia memperkirakan rupiah masih akan bergerak melemah tetapi terbatas hingga pertemuan The Fed membuahkan hasil.

Pada perdagangan Rabu (31/7/2019), rupiah diproyeksi bergerak di kisaran Rp13.950 per dolar AS hingga Rp14.070 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top