Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah Berbalik Menguat Setelah Terdepresiasi 3 Hari Berturut-turut

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (25/7/2019), rupiah ditutup di level Rp13.977 per dolar AS, menguat 0,143 persen atau 20 poin. Mata uang Garuda berhasil menjadi mata uang dengan kinerja penguatan terbaik di antara mata uang pasar berkembang di Asia.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  17:56 WIB
Karyawati beraktivitas di salah satu kantor cabang Bank Sinarmas, di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Himawan L Nugraha
Karyawati beraktivitas di salah satu kantor cabang Bank Sinarmas, di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah berhasil berbalik menguat pada perdagangan Kamis (25/7/2019) didukung sentimen positif dalam dan luar negeri, setelah tertekan selama 3 hari perdagangan berturut-turut.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (25/7/2019), rupiah ditutup di level Rp13.977 per dolar AS, menguat 0,143 persen atau 20 poin. Mata uang Garuda berhasil menjadi mata uang dengan kinerja penguatan terbaik di antara mata uang pasar berkembang di Asia.

Mengutip riset PT Asia Trade Point Futures, pergerakan rupiah kali ini berhasil memanfaatkan terbatasnya penguatan dolar AS yang dipicu oleh data ekonomi AS yang dirilis tidak sesuai dengan ekspektasi pasar.

“Melambatnya data-data ekonomi AS menjadi faktor pemicu menguatnya nilai tukar rupiah pada sesi perdagangan kali ini,” tulis PT Asia Trade Point Futures seperti dikutip dari publikasi risetnya, Kamis (25/7/2019).

Pembacaan awal data Manufacturing PMI AS periode Juli 2019 dirilis di level 50, lebih rendah dibandingkan dengan ekspektasi pasar sebesar 50,9. Adapun, nilai sebesar 50 menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur di AS bergerak stagnan pada Juli, yaitu tidak membukukan ekspansi maupun kontraksi.

Selain itu, data perumahan AS atau New Home Sales periode Juni 2019 hanya tumbuh sebanyak 646.000 unit atau lebih rendah daripada harapan pasar.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa data-data ekonomi AS yang lebih rendah tersebut telah menggairahkan minat investor di pasar berkembang karena menguatkan kembali proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed.

“Optimisme kembali hadir setelah The Federal Reserve (The Fed) selaku Bank Sentral AS dipercaya akan bertindak lebih dovish dalam pertemuannya bulan ini sehingga mendorong dolar AS bergerak melemah,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Kamis (25/7/2019).

Tercatat, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor lainnya bergerak stabil di level 97,73.

Dari dalam negeri, bertemunya Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan Partai Gerindra Prabowo Subianto membawa angin segar terhadap kondisi politik Indonesia dan memicu harapan pasar bahwa situasi politik akan menjadi lebih kondusif.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Perwakilan Perdagangan AS Robert Lightizer akan mengunjungi China pada Senin (29/7) untuk kembali melakukan negosiasi perdagangan dengan Negeri Panda tersebut.

Namun, Mnuchin mengungkapkan bahwa saat ini terdapat banyak masalah yang belum bisa dipecahkan oleh kedua belah pihak, membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menetapkan kesepakatan.

Ibrahim mengatakan, kemungkinan besar bahwa perang dagang AS-China akan berlanjut hingga 2020 di mana secara bersamaan juga akan diadakan pemilihan presiden AS.

Dia memprediksi rupiah masih akan menguat di kisaran level Rp13.940 per dolar AS hingga Rp14.022 per dolar AS pada perdagangan Jumat (27/7/2019).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top