Badai Tropis Barry Dorong Minyak Capai Kenaikan Mingguan Tertinggi 

Minyak berhasil mencetak penutupan pekan terbaiknya sejak pertengahan Juni lalu, Prestsi itu tercapai akibat Badai Tropis Barry yang menerpa Teluk Meksiko, wilayah penghasil minyak dan gas AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 14 Juli 2019  |  16:33 WIB
Badai Tropis Barry Dorong Minyak Capai Kenaikan Mingguan Tertinggi 
Anjungan minyak - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Minyak berhasil mencetak penutupan pekan terbaiknya sejak pertengahan Juni lalu, Prestsi itu tercapai akibat Badai Tropis Barry yang menerpa Teluk Meksiko, wilayah penghasil minyak dan gas AS.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak berjangka jenis West Texas Intermediete kontrak Agustus 2019 di bursa New York berhasil naik 4,7 persen sepanjang pekan lalu, setelah harga berhasil bertahan di level US$60 per barel sepanjang 3 perdagangan berturut-turut pada Jumat (12/7/2019).

Pada penutupan perdagangan Jumat (12/7), minyak WTI kontrak Agustus berada di level US$60,21 per barel, menguat 1 persen. Sementara itu, harga minyak berjangka jenis Brent kontrak September 2019 di bursa ICE ditutup di level US$66,72 per barel, menguat 0,3 persen. Sepanjang pekan, minyak berhasil menguat 3,88 persen.

Konsultan Ion Energy Group Houston Kyle Cooper mengatakan bahwa setelah beberapa pekan lalu minyak berada di jalur yang sangat bearish, dua pekan terakhir minyak berhasil mendapatkan sentimen positif yang mendukung harga.

Badai Tropis Barry di Teluk Meksiko telah mengekang setengah dari produksi minyak AS. Katalis positif minyak tersebut ditambah dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, serta penurunan tajam dalam stok minyak mentah AS.

Badai Tropis Barry telah membantu mengimbangi kekhawatiran pasar atas melemahnya permintaan minyak global.

"Ini adalah latar belakang yang bullish. Kami sebelumnya tidak berpikir minyak mentah akan menyentuh level saat ini, tetapi kisaran US$50 per barel hingga US$60 per barel saat ini masih masuk di akal," papar Kyle seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (14/7/2019).

Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan AS atau Bureau of Safety and Environmental Enforcement (BSEE) mengatakan, hampir 70 persen atau 1,3 juta barel per hari dari produksi minyak mentah AS di daerah Teluk Meksiko terputus karena Badai Tropis Barry.

Sementara itu, output gas alam dari anjungan lepas pantai di Teluk Meksiko telah berkurang sebesar 56 persen, atau 1,5 miliar kaki kubik per hari. Adapun, produsen minyak telah tutup di 283 anjungan, atau sebanyak 42 persen di Teluk utara Meksiko.

Badai Tropis Barry semakin menguat pada Sabtu pagi waktu setempat, sebelum tiba di pantai dekat Intracoastal City, Louisiana, sekitar pukul 1 malam dan dengan cepat melemah, dengan kecepatan angin maksimum 70 mil per jam atau 115 km per jam.

Satu kilang di Louisiana terpaksa ditutup akibat ancaman banjir, sedangkan 7 kilang lainnya di tenggara Louisiana tetap beroperasi.

Badai tropis tersebut menambah kekhawatiran pasar karena dapat mengganggu pasokan sehingga harga minyak mampu bergerak naik.

Tapi prospek jangka panjang minyak masih terlihat kurang menjanjikan. OPEC telah memperingatkan sebelumnya bahwa kelebihan pasokan akan melanda pasar pada 2020 seiring dengan produksi minyak serpih AS yang melonjak.

Badan Energi Internasional (IAEA) mengatakan ada tumpukan persediaan yang mengejutkan pada paruh pertama tahun ini, sehingga OPEC mungkin perlu memangkas produksinya ke level terendah dalam 17 tahun untuk mencegah overhang lainnya.

Sementara itu Inggris telah meningkatkan ancaman ke level tertinggi untuk kapal yang beroperasi di Teluk Persia karena ketegangan semakin panas di wilayah yang menyumbang sepertiga dari perdagangan minyak seaborne tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup