IHSG Ditutup Tergelincir dari Level 6.400

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir dari relinya dan ditutup di bawah level 6.400 pada perdagangan hari ini, Jumat (12/7/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  16:21 WIB
IHSG Ditutup Tergelincir dari Level 6.400
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir dari relinya dan ditutup di bawah level 6.400 pada perdagangan hari ini, Jumat (12/7/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berakhir melemah 0,68 persen atau 43,72 poin di level 6.373,34 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (11/7), indeks masih mampu naik 0,1 persen atau 6,38 poin dan berakhir di posisi 6.417,07, reli hari ketiga.

Indeks mulai tergelincir ke wilayah negatif dengan dibuka turun tipis 0,04 persen atau 2,87 poin di posisi 6.414,2 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.369,50 – 6.425,32.

Tujuh dari sembilan sektor berakhir melemah, dipimpin infrastruktur (-1,67 persen) dan barang konsumsi (-1,57 persen). Adapun sektor perdagangan naik 0,33 persen dan finansial stagnan.

Dari 651 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 150 saham menguat, 268 saham melemah, dan 233 saham stagnan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing turun 2,88 persen dan 2,11 persen menjadi penekan utama pergerakan IHSG.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan secara teknikal IHSG telah mencapai target penguatan fibonacci retracement 161.8 persen di angka 6420 dengan pola candlestick bearish meeting line.

“Laju IHSG terlihat sangat berat menjelang akhir pekan sehingga terkoreksi jangka pendek terlebih dahulu,” paparnya dalam riset.

Namun, lanjutnya, pergerakan yang berada di trek bullish trend setelah keluar dari bearish trend menjadi dorongan positif untuk pergerakan IHSG ke depan.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 berakhir melemah 1,06 persen atau 6 poin di level 561,88, setelah mampu reli tiga hari berturut-turut sebelumnya.

Indeks saham lainnya di Asia cenderung berakhir variatif. Indeks Topix turun 0,15 persen dan Nikkei 225 Jepang naik 0,2, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan naik 0,29 persen.

Di China, dua indeks saham utamanya, Shanghai Composite dan CSI 300 menguat 0,44 persen dan 0,62 persen. Adapun indeks Hang Seng Kong ditutup naik 0,14 persen.

Reli aset-aset berisiko memang mendapat dorongan baru dari komentar dovish Gubernur The Fed Jerome Powell pada Rabu (10/7) yang mengangkat prospek pemangkasan suku bunga.

Namun, rilis data inflasi (CPI) yang kuat di AS pada Kamis (11/7) menyodorkan komplikasi potensial bagi para pembuat kebijakan The Fed di Washington sebelum mengambil keputusan dalam rapat kebijakan moneter mereka pada akhir Juli ini.

Spekulasi pasar mengenai pemangkasan suku bunga secara agresif oleh The Fed sebesar 50 basis poin pada Juli pun tergerus pascarilis data inflasi.

Sementara itu, kontraksi tak terduga dalam PDB Singapura memberi peringatan baru kepada ekonomi dunia tentang dampak dari ketegangan perdagangan.

Produk domestik bruto (PDB) Singapura turun pada tingkat tahunan sebesar 3,4 persen pada kuartal II/2019 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Perolehan tersebut berbanding terbalik dengan pertumbuhan sebesar 3,8 persen pada kuartal pertama dan proyeksi ekonom dalam survei Bloomberg untuk ekspansi 0,5 persen.

Beberapa saat sebelumnya, Presiden Trump mengeluh dalam Twitter bahwa China tidak meningkatkan pembelian produk pertanian Amerika, janji yang diklaimnya telah dibuat di KTT G20 dengan Presiden Xi Jinping pada 29 Juni.

“Pasar telah menikmati sedikit ketenangan dalam saga perang dagang AS-China sejak pengumuman jeda pengenaan tarif [di KTT G20] dan dimulainya kembali perundingan perdagangan. Sayangnya, pemberitaan [suram soal AS-China] kembali muncul,” tulis analis ANZ dalam risetnya, seperti dikutip dari Reuters.

Berbanding terbalik dengan IHSG, meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed tetap membebani dolar AS dan menopang sejumlah mata uang, termasuk rupiah.

Nilai tukar rupiah pun lanjut berakhir menguat 59 poin atau 0,42 persen di level Rp14.008 per dolar AS, setelah ditutup menguat 65 poin atau 0,46 persen di posisi 14.067 pada Kamis (11/7).

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

HMSP

-2,88

TLKM

-2,11

GGRM

-3,11

CPIN

-4,55

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BRPT

+7,65

BMRI

+0,94

BNLI

+12,21

TRIO

+24,82

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup