Menakar Prospek Saham FASW Setelah Diakuisisi SCG

SCG Packaging resmi mengakuisisi 55 persen saham produsen kertas kemasan itu pada Jumat (28/6/2019). Lalu, bagaimana prospek saham emiten dengan kode saham FASW itu?
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 03 Juli 2019  |  20:55 WIB
Menakar Prospek Saham FASW Setelah Diakuisisi SCG
Karyawati beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Konglomerasi asal Thailand Siam Cement Group (SCG) melalui entitas anaknya SCGP Solutions (Singapore) Pte. Ltd. (SCG Packaging) menjadi kendali baru PT Fajar Surya Wisesa Tbk.

SCG Packaging resmi mengakuisisi 55 persen saham produsen kertas kemasan itu pada Jumat (28/6/2019). Lalu, bagaimana prospek saham emiten dengan kode saham FASW itu?

SCG Packaging merupakan entitas anak SCG yang bergerak di produk kertas kemasan dengan kepemilikan 99,04 persen saham. Pendapatan perseroan pada 2018 sebesar 87,77 miliar baht, naik 5,93 persen dari pendapatan 2017 sebesar 82,86 miliar baht.

Pada 2018, pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan tercatat sebesar 14,57 miliar baht, tumbuh 20,61 persen dari tahun sebelumnya sebesar 12,08 miliar baht.

SCG Packaging memiliki 1,36 miliar saham FASW dengan harga Rp7.054 per saham, lebih rendah dari harga penutupan perdagangan pada Jumat (28/6/2019) yang berada pada level Rp8.400 per saham. Dengan demikian, kepemilikan SCG Packaging setelah transaksi sebesar 55 persen dari total saham perseroan.

Pada pertengahan Mei 2019, President dan CEO The Siam Cement Public Company Limited (SCC) Roongrote Rangsiyopash mengatakan akuisisi ini memungkinan SCG untuk meningkatkan pertumbuhan di Asean, terutama di Indonesia yang memberikan peluang pertumbuhan yang besar di masa depan bagi SCG Packaging.

“Mengingat populasi Indonesia sebanyak 270 juta dan konsumsi kertas kemasan per kapita, potensi pertumbuhan pasarnya hampir 3 kali dari Thailand,” katanya dalam keterangan resmi.

Fajar Surya Wisesa merupakan emiten produsen kertas kemasan dengan kapasitas terpasang 1,3 juta metrik ton per tahun. Pada kuartal I/2019, perseroan membukukan penjualan bersih senilai Rp2,40 triliun atau turun 0,82 persen secara tahunan. Adapun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp419,73 miliar atau naik 28,74 persen secara tahunan.

Direktur Utama Fajar Surya Wisesa Yustinus Y Kusumah menyampaikan, dengan masuknya SCG Packaging sebagai pemegang saham baru perseroan diharapkan akan lebih menguatkan posisi perseroan di industri kertas di Indonesia serta penetrasi lebih lanjut produk perseroan di dunia, khususnya di wilayah Asean.

Seiring dengan akuisisi ini, perseroan merombak jajaran direksi. Dalam susunan direksi yang baru, Fajar Surya Wisesa menambahkan 4 komisaris dan 3 direksi.

Empat komisaris itu yakni Tanawong Areeratchakul sebagai komisaris utama, Wichan Jitpukdee sebagai komisaris, Sangchai Wiriyaumpaiwong sebagai komisaris, dan Lim Chong Thian sebagai komisaris independen. Adapun, tiga direksi itu yakni Peerapol Mongkolsilp sebagai direktur utama, Thalengsak Ratchburi sebagai direktur, dan Ponthep Tuntavadcharom sebagai direktur.

Senior Manager Research Analyst Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy mengatakan, masuknya SCG sebagai investor baru akan mengembangkan bisnis FASW ke depannya. Dia sepakat bahwa SCG bakal memberikan jaringan pasar baru ke FASW sehingga dapat mendorong kinerja.

“Biasanya kinerja harga saham akan mengikuti prospek pertumbuhan perusahaan tersebut,” katanya pada Rabu (3/7/2019).

Senada, Kepala Riset Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan, bisnis inti SCG di Indonesia, terutama SCG Cement, dapat menjadi jaringan pasar baru bagi FASW.

Suria mengatakan, pasar tidak melihat efek yang drastis dari akuisisi ini karena saham FASW kurang likuid. Di samping itu, rasio price book value (PBV) saat ini sudah tinggi sebesar 4,23 kali.

“Kalau kurang likuid, naik turunnya saham sukar diprediksi atau dikorelasikan dengan performa perusahaan,” katanya.

Analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama menilai, konsumsi kertas kemasan di Indonesia yang tinggi mendorong SCG Group untuk mengakuisisi saham FASW. Dia juga belum dapat memberikan rekomendasi terhadap saham FASW.

Untuk prospek saham setelah akuisisi, Nafan memberikan rekomendasi netral terhadap saham FASW dengan proyeksi puncak harganya di Rp9.125. Di sisi lain, dia menilai price to earning ratio (PER) FASW sebesar 11,95 kali masih dalam kategori menarik.

“Tren pergerakan harga saham ini sangat random, sehingga untuk menentukan arah tren akan lebih bersifat spekulatif,” katanya.

Pada penutupan perdagangan Rabu (3/7/2019), harga saham FASW berakhir melemah 1,23 persen ke level Rp8.025 atau turun 100 poin. Meski demikian, secara year to date saham FASW telah menguat 3,22 persen.

Saham FASW saat ini diperdagangkan dengan PER 11,84 kali dengan kapitalisasi pasar Rp19,89 triliun. Adapun, saham publik kurang dari 5 persen sebanyak 319,08 juta atau 12,88 persen dari modal disetor dan ditempatkan perseroan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fajar surya wisesa

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top