Rusia Pertimbangkan Perpanjang Pemangkasan Produksi Minyak

Wakil Perdana Menteri Rusia Anton Siluanov mengatakan bahwa rusia akan mempertimbangkannya dengan hati-hati, khususnya efek positif kesepakatan tersebut terhadap harga minyak dunia dan kerugian dalam pangsa pasar yang diambil AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Mei 2019  |  09:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Rusia akan mempertimbangkan untuk memperpanjang perjanjian pemangkasan produksi minyak dengan organisasi negara pengekspor minyak atau OPEC dan sekutunya.

Wakil Perdana Menteri Rusia Anton Siluanov mengatakan bahwa rusia akan mempertimbangkannya dengan hati-hati, khususnya efek positif kesepakatan tersebut terhadap harga minyak dunia dan kerugian dalam pangsa pasar yang diambil AS.

“Ada banyak argumen yang mendukung perpanjangan dan menentangnya. Tentu saja, kami membutuhkan stabilitas harga dan prediksi, ini bagus, tapi kami melihat bahwa semua kesepakatan dengan OPEC ini, membuat AS meningkatkan produksi minyak serpih dan meraih pasar baru,” ujar Anton seperti dikutip dari Reuters, Rabu (29/5/2019).

Kementerian Energi Rusia, lanjut Anton, akan menentukan sikap pada perpanjangan pakta setelah mempertimbangkan pro dan kontra dari tren pasar saat ini.

Seperti yang diketahui, OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sepakat untuk memangkas produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari selama 6 bulan yang mulai berlaku awal tahun ini untuk mendorong harga minyak naik.

OPEC dan produsen lain yang terlibat dalam perjanjian pasokan atau aliansi yang dikenal sebagai OPEC +, dijadwalkan untuk bertemu membahas perpanjangan pakta dalam pertemuan OPEC di Wina pada 25 dan 26 Juni mendatang.

Di sisi lain, harga minyak pada perdagangan Rabu (29/5/2019) seiring dengan kekhawatiran pasar terkait perang dagang AS dan China yang tidak kunjung reda akan memicu perlambatan ekonomi global.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (29/5/2019) hingga pukul 16.00 WIB, harga minyak jenis WTI untuk kontrak Juli 2019 di bursa Nymex bergerak melemah 1,86 persen menjadi US$58,04 per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis brent di bursa ICE bergerak terdepresiasi 1,91 persen menjadi US$68,77 per barel.

Direktur Pelaksana dan Manager Portfolio Energi Tortoise James Mick mengatakan bahwa penurunan harga minyak mentah tertutama karena sentimen permintaan yang tengah mendominasi pasar dibandingkan dengan ketatnya pasokan.

“Investor khawatir dari perspektif makro tentang permintaan di seluruh dunia, khususnya dalam menghadapi sengketa perdagangan yang berkembang antara AS dan China,” ujar  James seperti dikutip Reuters, Rabu (29/5/2019).

Analis Forex.com Fawad Razaqzada mengatakan, kekhawatiran lain yang menyebabkan harga minyak jatuh adalah pelemahan mata uang emerging market sehingga membuat harga minyak mentah yang diperdagangkan dalam dolar AS lebih mahal untuk dibeli negara tersebut.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang bergerak menguat 0,06 persen menjadi 98,012.

Terlepas dari kekhawatiran perlambatan ekonomi, berdasarkan data Energy Information Administration AS bahwa permintaan minyak global sejauh ini telah bertahan dengan baik, kemungkinan rata-rata akan mencapai lebih dari 100 juta barel per hari (bph) pada tahun ini untuk pertama kalinya.

Selain pemangkasan produksi dari OPEC, risiko pasokan juga berasal dari berlanjutnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan sanksi AS untuk negara minyak seperti Venezuela dan Iran.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, opec

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top