Minyak Bergerak Menguat Meski Tarif Impor China oleh AS Resmi Naik

Harga minyak mentah dunia berhasil naik lebih tinggi bahkan ketika AS merealisasikan kenaikan tarif impor terhadap China di tengah negosiasi perdagangan antara AS dan China yang masih berjalan.
Finna U. Ulfah | 10 Mei 2019 14:59 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters


Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah dunia berhasil naik lebih tinggi bahkan ketika AS merealisasikan kenaikan tarif impor terhadap China di tengah negosiasi perdagangan antara AS dan China yang masih berjalan.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (10/5/2019) pukul 14.14 WIB, harga minyak mentah jenis WTI di bursa New York bergerak menguat 0,81% menjadi US$62,20 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent di bursa ICE bergerak menguat 0,58% menjadi US$70,80 per barel.

Pemerintahan AS telah resmi memberlakukan kenaikan tarif impor sebesar 25% dari semula sebesar 10% untuk barang-barang China senilai US$200 miliar.

Tarif baru tersebut dikenakan pada lebih dari 5.700 kategori produk yang berbeda asal China, mulai dari sayur-sayuran olahan hingga lampu Natal dan kursi tinggi untuk bayi. Keputusan Trump tersebut diambil di tengah berlangsungnya pembicaraan lanjutan antara kedua negara di Washington, AS.

Adapun, dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut sudah melakukan serangkaian negosiasi untuk menyelesaikan perang dagang yang berlangsung sejak hampir setahun lalu.

Namun, hingga kini, belum ada kata sepakat antara kedua negara atas solusi yang menguntungkan masing-masing pihak.

Analis Pasar Senior Oanda Asia Pacific Singapura Jeffrey Halley mengatakan bahwa minyak mentah akan melaju di jalur bearish jika pembicaraan perdagangan AS dan China berakhir tanpa kemajuan nyata.

"Kami tidak melihat jalan keluar lainnya karena masih ada harapan hasil kesepakatan yang positif tetap akan datang dari hasil pembicaraan perdagangan pekan ini," ujar Jeffrey seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat (10/5/2019).

Merespons realisasi kenaikan tarif impor tersebut, Kementerian Perdagangan China berharap dapat menyelesaikan sengketa perdagangan dengan AS melalui kerja sama dan negosiasi. 

China mengatakan bakal melakukan kebijakan balasan yang diperlukan. Namun, tidak dijelaskan kebijakan apa yang mereka maksud.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, krisis kontaminasi minyak mentah Rusia, dan kemungkinan menurunnya produksi dari Venezuela menunjuk ke arah situasi pasokan yang lebih ketat dan mendorong harga lebih tinggi.

"Ada masalah pasokan yang mendasari karena Iran dan Venezuela, tetapi saat ini pasar masih difokuskan pada pembicaraan perdagangan AS dan China," ujar Daniel Hynes, ahli strategi komoditas senior di ANZ Banking Group Sydney.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, perang dagang AS vs China

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup