Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indeks Dolar Melemah 0,5 Persen dalam Sepekan

Dolar Amerika Serikat tergelincir terhadap sejumlah mata uang lain pada Jumat (3/5/2019) setelah para spekulan memperhatikan aspek yang lebih lemah pada laporan upah pekerja AS pada April dan tingkat pengangguran pada titik terendah selama lebih dari 49 tahun.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 04 Mei 2019  |  11:29 WIB
Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Jumat (1/3/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari
Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta, Jumat (1/3/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari
Bisnis.com, JAKARTA - Dolar Amerika Serikat tergelincir terhadap sejumlah mata uang lain pada Jumat (3/5/2019) setelah para spekulan memperhatikan aspek yang lebih lemah pada laporan upah pekerja AS pada April dan tingkat pengangguran pada titik terendah selama lebih dari 49 tahun.
 
Mengutip Reuters, para analis berpendapat laju pertumbuhan upah yang moderat 0,2% dan penurunan tingkat partisipasi kerja memicu orang menjual greenback
 
"Kondisi ini tidak memberikan alasan kuat untuk menambah posisi dolar yang cukup besar,” kata ahli strategi mata uang di Credit Agricole di New York, Eric Viloria. 
 
Pada perdagangan terakhir, indeks yang melacak nilar tukar dolar AS terhadap keranjang enam mata uang 0,32% lebih rendah ke posisi 97.521 yang semakin menambah penurunan mingguan sekitar 0,5%. 
 
Euro menguat 0,21% menjadi US$1,11955 setelah tertekan selama sepekan pada level US$1,1135, sedangkan dolar melemah 0,38% pada 111,09 yen. Mata uang tunggal menguat 0,4% terhadap greenback pekan ini, sedangkan dolar jatuh 0,4% terhadap yen. 
 
Dolar juga berada dalam tekanan ketika Institute for Supply Management menyatakan greenback jatuh pada titik terendahnya dalam 20 bulan terakhir. 
 
Tanggapan dari Presiden FED Chicago Charles Evans dan Presiden Fed St Louis James Bullard menyokong taruhan bahwa bank sentral AD mungkin menurunkan suku bunga pada akhir tahun meskipun Gubernur the Fed Jerome Powell dua hari sebelumnya mengatakan dia tidak melihat pentingnya menaikkan atau memangkas suku bunga saat ini. 
 
Evans mengatakan dalam sebuah acara di Stockhokm bahwa suku bunga yang lebih rendah mungkin diperlukan jika ekonomi melunak.
 
Bullard kepada televisi CNBC mengatakan kebijakan suku bunga the Fed 'sedikit ketat' dan inflasi yang terbaca saat ini sayangnya rendah.
 
Menurut CME Group’s FedWatch, suku bunga berjangka menyiratkan para trader melihat sekitar 47% peluang the Fed akan memangkas suku bunga pada policy meeting 10-11 Desember, dibandingkan dengan 50% pada Kamis.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs dolar

Sumber : Reuters

Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top