Bali United Siap IPO, Bagaimana Potensinya?

PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. atau Bali United akan menetapkan rentang harga penawaran perdana sahamnya antara Rp100 hingga Rp150 per saham. Perseroan akan menggelar due diligence meeting & public expose di Bali hari ini, Kamis (26/4/2019).
Emanuel B. Caesario | 26 April 2019 10:37 WIB
Penyerang Bali United Stefano Lilipaly - BaliUtd.com

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. atau Bali United akan menetapkan rentang harga penawaran perdana sahamnya antara Rp100 hingga Rp150 per saham. Perseroan akan menggelar due diligence meeting & public expose di Bali hari ini, Kamis (26/4/2019).

Berdasarkan informasi penawaran umum yang diterbitkan Kresna Sekuritas sebagai salah satu penjamin emisi efek perseroan, Bali United akan menggunakan kode saham BOLA.

Penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) BOLA ini menargetkan dana Rp200 miliar hingga Rp300 miliar dari pelepasan 33,3% saham perseroan. Dengan demikin, nilai kapitalisasi pasar perseroan setelah IPO diperkirakan mencapai Rp600 miliar hingga Rp900 miliar.

Rencananya, harga penawaran per saham adalah antara Rp100 hingga Rp150. Masa penawaran awal atau bookbuilding dimulai sejak hari ini, Kamis (26/4/2019) hingga Selasa (7/5/2019) mendatang.   

Adapun, pada 2018, EBITDA perseroan mencapai Rp25,13 miliar. Kresna Sekuritas memperkirakan EBITDA 2019 akan mencapai Rp31,97 miliar.

Target harga IPO Rp100/saham menyiratkan nilai perusahaan per EBITDA sebesar 24x atas realisasi EBIDA 2018 dan 19x dari proyeksi EBITDA 2019. Sementara itu, harga Rp150/saham mencerminkan nilai perusahaan per EBITDA sebesar 36x atas realisasi EBIDA 2018 dan 28x dari proyeksi EBITDA 2019.

“Dengan EBITDA yang diproyeksikan sebesar Rp43 miliar pada tahun 2020, kami menghargai valuasi BOLA pasca-IPO pada target harga Rp215/saham. Nilai ini mencerminkan nilai perusahaan per EBITDA 2020 sebesar 29x. Kami merekomendasikan beli,” ungkap Kresna Sekuritas, Jumat (26/4/2019).

Adapun, risiko investasi yang mungkin muncul terhadap saham BOLA yakni pendapatan yang lebih rendah dari yang diperkirakan sebesar Rp144 miliar dan Rp187 miliar pada 2019 dan 2020 (tumbuh 25%/30% yoy), serta margin EBITDA yang lebih rendah dari yang diperkirakan sebesar 22%/23% pada 2019/2020.

Tim riset Kresna Sekuritas mengungkapkan bahwa berbeda dibandingkan klub sepak bola lainnya, BOLA memiliki diversifikasi bisnis yang luas ke sektor lain yang dapat membantu mempertahankan pertumbuhan pendapatan.

Bisnis makanan dan minuman dijalankan melalui Bali Utd Café, dapat menambah nilai bagi penggemar yang ingin menonton pertandingan langsung sambil menikmati hidangan lezat.

Media business memiliki potensi besar dalam pendapatan iklan dari Bali Utd FM dan penawaran aplikasi seluler Bali Utd. Pengalaman Sportainment Event Organizer dalam mengorganisir Bali Utd Festival akan membuat mereka memasuki pasar multi-miliar dolar dari E-Sport (Mobile Legend, PUBG Mobile, dll).

Menurut survei Nielsen yang dikutip oleh Bloomberg pada Juni-2018, sepak bola saat ini adalah olahraga paling populer di dunia, dengan lebih dari 4 dari 10 orang menganggap diri mereka penggemar olahraga tersebut.

Survei ini (mencakup 18 pasar global), juga menyimpulkan bahwa 43% dari responden mengatakan mereka 'tertarik' atau 'sangat tertarik' dalam olahraga (angka 2017). Bola basket (36%) berada di urutan kedua.

Oleh karena itu, Kresna Sekuritas menilai Indonesia dapat menjadi tujuan investasi utama untuk sepakbola dan industri hiburan olahraga di antara negara-negara berkembang karena populasinya yang besar. Lebih dari 70% di antaranya tertarik dengan sepakbola (sumber: Repucom, 2014).

Bali Utd berharap untuk berpartisipasi di musim 2020 AFC Champions Cup, setelah sebelumnya berkompetisi di musim 2018, sebagai hadiah untuk posisi runner-up di musim 1 Liga Indonesia 2017. Oleh karena itu, pendapatannya dari sponsor dan hak siar diharapkan akan terus meningkat di masa depan.

Adapun, setelah masa bookbuilding berakhir, tanggal efektif atas pencatatan saham perseroan diperkirakan terbit pada 15 Mei 2019. Selanjutnya, masa penawaran umum berlangsung pada 17-21 Mei 2019. Saham perseroan diperkirakan akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia pada Senin, 27 Mei 2019.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pasar modal, ipo, bali united

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup