IHSG Sentuh Level Penutupan Terendah, Ini Sentimen Penekannya

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut dengan ditutup turun lebih dari 1 persen pada perdagangan hari ini, Kamis (25/4/2019).
Renat Sofie Andriani | 25 April 2019 17:29 WIB
Karyawan melintas di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (23/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut dengan ditutup turun lebih dari 1 persen pada perdagangan hari ini, Kamis (25/4/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berakhir melemah 1,16 persen atau 75,1 poin di level 6.372,79 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Rabu (24/4), IHSG berakhir di level 6.447,88 dengan koreksi 0,23 persen atau 14,94 poin.

IHSG mulai melanjutkan pelemahannya dengan dibuka turun 0,37 persen atau 24,05 poin di level 6.423,84 pagi tadi. Level penutupan yang dibukukan hari ini adalah yang terendah sejak 12 Maret.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.353,28 – 6.431,59.

Seluruh sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, dipimpin barang konsumsi (-2,15 persen), properti (-1,72 persen), dan industri dasar (-1,72 persen).

Dari 632 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 128 saham menguat, 291 saham melemah, dan 213 saham stagnan.

Saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing turun 4,62 persen dan 1,59 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG.

Menurut Taye Shim, kepala ekuitas dan pasar modal di PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, IHSG melemah karena terbebani rilis laporan kinerja keuangan sejumlah perusahaan untuk kuartal I/2019 yang lebih lemah dari ekspektasi.

“Pengamatan kami menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yang telah merilis laporannya sejauh ini telah meleset dari ekspektasi pasar,” terang Taye, seperti dikutip Bloomberg.

Aksi jual bersih oleh investor asing pun berlanjut pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp723,77 miliar pada perdagangan hari ini.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 lanjut berakhir melemah 1,07 persen atau 6,05 poin di level 558,25, setelah ditutup turun 0,40 persen atau 2,26 poin di posisi 564,30 pada Rabu (24/4).

Bursa saham di Asia secara keseluruhan berakhir cenderung melemah di tengah pelemahan pasar saham global akibat terbebani kekhawatiran mengenai pertumbuhan ekonomi dunia

Di antara yang berakhir di zona merah adalah indeks indeks FTSE Straits Times Singapura (-0,36 persen) dan FTSE Malay KLCI (-0,14 persen).

Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,86 persen dan indeks Kospi Korea Selatan turun 0,48 persen. Indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing bahkan anjlok 2,43 persen dan 2,19 persen.

Berdasarkan data Reuters, indeks Stoxx Europe 600 turun 0,3 persen pada awal perdagangan di London, dengan kekhawatiran seputar prospek untuk pertumbuhan global yang ditunjukkan oleh lesunya data ekonomi Korea Selatan.

Indeks world equity MSCI, yang melacak pergerakan saham di 47 negara, juga turun 0,3 persen. Pasar saham Asia telah terlebih dahulu turun, sebesar 0,5 persen, terbebani ekonomi Korsel yang secara tak terduga berkontraksi pada kuartal pertama.

Produk Domestik Bruto (PDB) Korsel mencatat penyusutan terbesar dalam satu dekade akibat terdampak menurunnya investasi dan ekspor negara berekonomi terbesar keempat di Asia tersebut.

Korea Selatan sangat terekspos terhadap perlambatan pertumbuhan global dan sektor teknologi. Gabungan dua hal ini telah menekan PDB Negeri Ginseng dalam beberapa kuartal terakhir. Hal ini sekaligus menggarisbawahi rentannya ekonomi dunia di luar Amerika Serikat.

Kekhawatiran mengenai pertumbuhan juga menghantui investor Eropa, dengan kekhawatiran terhadap keadaan ekonomi Jerman pascarilis survei pada Rabu (24/4) yang menunjukkan penurunan antusiasme bisnis di Jerman.

Bersama IHSG, nilai tukar rupiah hari ini berakhir melemah 81 poin atau 0,57 persen di level Rp14.186 per dolar AS.

Dalam pertemuan kebijakan moneter yang berakhir hari ini, Kamis (25/4), Bank Indonesia (BI) memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan keputusan ini ditetapkan dengan melihat semua data-data terkait dengan inflasi, pertumbuhan ekonomi dan sistem keuangan di dalam negeri serta perkembangan global. 

“Keputusan tersebut konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal perekonomina khususnya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik," tegas Perry dalam paparannya.

Keputusan BI tersebut sejalan dengan proyeksi ekonom dan pasar yang memperkirakan suku bunga acuan bank sentral akan tetap berada di level 6 persen.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

UNVR

-4,62

BBRI

-1,59

CPIN

-7,56

HMSP

-1,45

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BDMN

+3,95

TPIA

+1,49

FREN

+2,03

MAYA

+1,98

 Sumber: Bloomberg

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup