134 Emiten PER-nya Terdiskon, Ini Saham yang Layak Beli

Di tengah rendahnya likuiditas pasar, sejumlah saham menarik untuk dikoleksi. Cukup banyak emiten yang punya kinerja keuangan solid, tetapi memiliki price to earnings ratio (PER) relatif rendah.
Tim Bisnis Indonesia | 15 April 2019 14:35 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah rendahnya likuiditas pasar, sejumlah saham menarik untuk dikoleksi. Cukup banyak emiten yang punya kinerja keuangan solid, tetapi memiliki price to earnings ratio (PER) relatif rendah.

Beburu saham dengan PER rendah menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (15/4/2019). Berikut laporannya.

Secara umum, berdasarkan data Bloomberg, PER rata-rata tertimbang dari IHSG berada di level 17,8 kali pada akhir pekan lalu atau lebih rendah dibandingkan dengan posisi pada akhir 2018 sebesar 19,4 kali.

Hal ini menjadi acuan bagi emiten karena jika PER emiten lebih tinggi dibandingkan dengan acuan di pasar, valuasi saham itu relatif mahal. Demikian juga sebaliknya. PER di bawah 10 kali umumnya menjadi indikator adanya ‘diskon’ harga saham tersebut.

Sejauh ini, masih ada 134 emiten yang harga sahamnya terdiskon berdasarkan indikator PER. Jumlah tersebut setara 21% dari total 632 emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Thendra Crisnanda, Head of Research Institusi MNC Sekuritas, menjelaskan faktor yang membuat PER sejumlah emiten kecil pada awal tahun ini adalah likuiditas pasar yang rendah dan tingkat profitabilitas dan pertumbuhan kinerja relatif rendah.

Faktor kapitalisasi pasar turut menyebabkan PER sejumlah emiten masih rendah karena tidak menarik bagi investor institusi yang hanya membeli saham dengan kapitalisasi pasar lebih dari Rp3 triliun.

“Minim aksi korporasi dan isu sektoral yang tidak mendukung,” kata Thendra, Jumat (12/4/2019).

Memang, mayoritas dari saham-saham dengan PER rendah tersebut merupakan saham-saham berkapitalisasi pasar kecil di bawah Rp1 triliun dan cenderung kurang likuid karena free float yang terbatas.

Namun, 22 emiten di antaranya merupakan emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.

Selain itu, Bisnis mencatat ada 15 emiten dengan kapitalisasi pasar antara Rp3 triliun hingga Rp9,9 triliun yang tergolong likuid, tetapi memiliki nilai PER di bawah 10 kali. (Lihat grafis)

Janson Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas, mengatakan bahwa PER sejumlah emiten yang rendah lebih disebabkan oleh sentimen kinerja keuangan yang berada di bawah ekspektasi.

Sentimen keuangan tersebut antara lain besarnya tingkat leverage atau debt to EBITDA ratio yang lebih tinggi dibandingkan dengan emiten lain di sektor yang sama.

Dia mencontohkan PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) memiliki tingkat leverage yang lebih tinggi dibandingkan dengan PT Charoen Pokphand Tbk. (CPIN).

Faktor lain yang menyebabkan rendahnya PER sejumlah emiten adalah realisasi laba yang kurang memuaskan atau prospek usaha yang masih kurang begitu menjanjikan. Faktor ini antara lain dialami emiten-emiten properti.

INDIKATOR LAIN

Kendati demikian, lanjutnya, tidak semua emiten dengan PER yang rendah dapat dianggap layak beli. Investor tetap harus memperhatian indikator lain seperti return on equity (ROE) dan return on assets (ROA).

Janson menilai, beberapa emiten yang cukup layak untuk dikoleksi di antaranya yakni MAIN, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) dan PT PP (Persero) Tbk. Menurutnya, MAIN masih prospektif, walaupun tingkat leverage-nya tinggi.

Menurutnya, industri unggas masih menjanjikan karena tingkat konsumsi ayam per kapita di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara Asean. Mendekati bulan Ramadan, permintaan terhadap daging ayam biasanya cenderung meningkat.

“INKP masih mengalami pertumbuhan ROE yang positif. Bisnis pulp dan kertas masih bagus pada tahun ini. PTPP akan sangat prospektif bila petahana berhasil terpilih kembali dalam pemilu tahun ini,” imbuhnya.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, menjelaskan bahwa selain sejumlah faktor di atas, penyebab lain rendahnya PER sejumlah emiten bisa dilihat dari sisi perkembangan industri di sektor tertentu.

Dia mencontohkan, PER emiten pakan ternak rendah karena pemerintah akan membatasi impor jagung atau emiten batu bara memiliki PER rendah karena prospek sektor tersebut mengkhawatirkan seiring dengan harga jual yang turun.

“Sejumlah emiten batu bara agak kurang menjanjikan pada awal tahun ini menyusul dengan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global,” paparnya.

Senada, Sekretaris Perusahaan PT Waskita Beton Precast Tbk. Ratna Ningrum menjelaskan bahwa ada beberapa faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan harga saham perseroan, salah satunya adalah pergerakan indeks sektoral.

“Namun, dari awal tahun ini kami sudah lihat adanya peningkatan harga saham dan kami yakin akan terus meningkat sesuai dengan fundamental perusahaan yang kuat,” ujarnya.

Dia menuturkan, emiten berkode saham WSBP ini masih fokus untuk merealisasikan target sesuai dengan strategi yang diterapkan, yaitu melakukan pengerjaan proyek yang telah didapatkan dan ekspansi bisnis.

Sementara itu, Direktur PT Rukun Raharja Tbk. M Oka Lesmana Firdauzi menilai bahwa perkembangan pasar saham saat ini memang terlihat kurang menggembirakan.

Menurutnya, hal itu dipengaruhi oleh aktivitas politik sehingga kegiatan bisnis cenderung tidak marak dan masih menanti hasil pemilihan umum. (Dwi N. Tari/Emanuel B. Caesario/M. Nurhadi Pratomo/Azizah Nur Alfi)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham, harga saham

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top