Pendapatan BIPI Meroket Jadi US$27,16 Juta pada 2018

PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. membukukan pendapatan US$27,16 juta pada 2018, meroket dari capaian tahun sebelumnya yang hanya US$3,27 juta.
Annisa Margrit | 15 April 2019 23:58 WIB
Pekerja melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jum'at (22/2/2019). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA -- Pendapatan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. melonjak menjadi US$27,16 juta pada 2018, dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang hanya senilai US$3,27 juta.
 
Dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Senin (15/4/2019), pertumbuhan ini disebabkan oleh mulai dikonsolidasikannya laporan keuangan anak perusahaan, yaitu PT Mitratama Perkasa (MP), yang sebelumnya dicatat sebagai investasi pada ventura bersama.
 
Beban pokok pendapatan juga terpangkas dari US$8,84 juta pada 2017 menjadi US$5,22 juta pada tahun lalu. Hal ini sejalan dengan divestasi anak perusahaan yang bergerak di sektor minyak dan gas bumi pada akhir 2017.
 
Divestasi menjadi langkah strategis Astrindo Nusantara (BIPI) untuk lebih fokus di infrastruktur energi terintegrasi. 
 
Di sisi laba, perseroan berhasil membukukan laba bruto sebesar US$21,94 juta dari sebelumnya rugi bruto US$5,58 juta. Namun, laba bersih menyusut dari US$65,61 juta menjadi US$21,89 juta karena adanya kenaikan beban keuangan.
 
"Kami cukup puas dengan hasil yang dicapai pada 2018, yang mencerminkan kinerja pertumbuhan positif seiring dengan meningkatnya pendapatan dan menurunnya beban pokok pendapatan perusahaan," papar Direktur BIPI Michael Wong.
 
Perseroan menyatakan beban keuangan meningkat karena terdampak rangkaian transaksi strategis yang dilakukan BIPI untuk mendapatkan pembiayaan kembali (refinancing) dan penyelesaian kewajiban pinjaman entitas anak yang sudah jatuh tempo. Pada akhir tahun lalu, BIPI mendapatkan pinjaman baru sebesar US$235 juta dari beberapa kreditur luar negeri.
 
Michael melanjutkan pihaknya tetap optimistis dapat meningkatkan nilai bagi para pemangku kepentingan.
 
Presiden Direktur BIPI Ray Anthony Gerungan menyatakan pihaknya sudah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk tahun ini.
 
"Perusahaan telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kinerja keuangan dan operasional pada tahun ini, dengan terus meningkatkan keunggulan kompetitif dan membuka peluang pengembangan bisnis dalam lingkup infrastruktur energi terintegrasi," terangnya.
 
Tahun ini, BIPI menargetkan tambahan penanganan batu bara sebanyak 1,5 juta ton di Sumatra Selatan, melalui entitas anak, yakni PT Putera Hulu Lematang. Penambahan ini sejalan dengan rampungnya pembangunan pelabuhan serta fasilitas pendukung pada akhir 2018.
 
Tahun lalu, jumlah penanganan batu bara yang dilakukan BIPI melalui MP dan entitas ventura bersama, PT Nusa Tambang Pratama, sebanyak 72,43 juta ton. Meski jumlah ini lebih rendah sekitar 6% secara year-on-year (yoy), tapi perseroan mengklaim tak berdampak signifikan terhadap kinerja operasional secara keseluruhan.
 
Hingga akhir 2019, jumlah penanganan batu bara diharapkan mencapai 86 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten tambang, kinerja emiten

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top