Kinerja Rupiah : Ditutup Cukup Kuat di Kuartal I, Hati-hati di Kuartal II

Menutup kuartal pertama tahun ini, rupiah berhasil bertahan di posisi zona hijau dan menguat cukup baik.
Finna U. Ulfah | 31 Maret 2019 21:26 WIB
Karyawan bank memperlihatkan uang pecahan Dolar AS dan Rupiah di Jakarta, Senin (7/1/2019). - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA - Menutup kuartal pertama tahun ini, rupiah berhasil bertahan di posisi zona hijau dan menguat cukup baik.

Walaupun demikian, rupiah dinilai masih harus tetap bekerja lebih keras pada kuartal kedua mengingat masih banyaknya ketidakpastian global dan kekhawatiran pasar terhadap potensi resesi global.

Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang kuartal I/2019 rupiah berhasil menguat 1,032% melawan dolar AS dan ditutup pada level Rp14.243 per dolar AS.

Rupiah menduduki posisi lima besar mata uang dengan kinerja terbaik di klasemen Asia dan kalah terhadap ringgit, baht, dan yuan offshore serta yuan renmimbi.

Padahal, pada perdagangan awal tahun, rupiah sempat jauh memimpin penguatan di kelompok mata uang Asia akibat sentimen Federal Reserves yang memberikan sinyal untuk lebih sabar dalam menaikan suku bunganya sehingga membuat dolar AS kehilangan daya tarik.

Seperti pada penutupan perdagangan Kamis (31/1/2019) rupiah menguat cukup tajam 1,131% atau naik 159 poin menjadi Rp13.937 per dolar AS.

Adapun, pada kuartal I/2019 rupiah diperdagangkan dengan level terendah di Rp13.920 per dolar AS pada perdagangan Rabu (6/2/2019) dan level tertinggi di Rp14.458 per dolar AS pada pembukaan perdagangan tahun ini, Rabu (2/1/2019).

Kemudian, rupiah kembali melemah sepanjang perdagangan satu bulan lalu, menjadi kinerja terburuk kedua pada kelompok mata uang Asia melemah 1,222% akibat ketidakpastian geopolitik seperti perundingan perdagangan AS dan China, serta Brexit.

Pada perdagangan pekan lalu, Jumat (29/3/2019), rupiah ditutup melemah tipis, hanya turun 1 poin menjadi Rp14.243 per dolar AS.

Di lain sisi, kinerja rupiah pada kuartal pertama tahun ini masih lebih baik dibandingkan dengan kinerja rupiah pada kuartal pertama tahun lalu. Sepanjang perdagangan kuartal pertama 2018, rupiah melemah 1,58% melawan dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa pergerakan rupiah pada kuartal pertama tahun ini memang cukup baik, hanya saja rupiah diprediksi akan melemah pada kuartal kedua akibat ketidakpastian global seperti perang dagang AS dan China serta Brexit.

"Sentimen pergerakan rupiah pada kuartal kedua temanya hanya dua saja, perundingan perdagangan AS dan China juga Brexit, yang keduanya masih belum ada kepastian hingga kuartal kedua nanti," ujar Ibrahim kepada Bisnis, Minggu (31/3/2019).

Sebagai informasi, tenggat waktu keluarnya Inggris dari benua biru disetujui oleh Uni Eropa untuk diperpanjang hingga 12 April 2019 akibat kebuntuan dalam menemukan kesepakatan Brexit.

Tenggat waktu Brexit sebelumnya dijadwalkan pada 29 Maret 2019.

Selain itu, pertemuan puncak antara Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pun juga diundur menjadi akhir April 2019 yang sebelumnya direncanakan bertemu pada 27 Maret 2019.

Sampai saat ini, kedua negara tersebut pun masih melakukan perundingan untuk menemukan jalan tengah dari perang dagang yang terjadi sepanjang tahun lalu.

Imbas dari hal tersebut, saat ini hampir seluruh bank sentral di dunia juga mengubah sikapnya menjadi lebih dovish dalam kebijakan moneternya maupun dalam pandangan pertumbuhan ekonominya. 

Selain itu, pergerakan rupiah pada kuartal kedua juga akan dibebani oleh reli penguatan minyak mentah dunia akibat kebijakan pemangkasan pasokan oleh OPEC dan sekutunya, serta sanksi AS terhadap negara minyak Iran dan Venezuela.

Indonesia yang merupakan negara net importir minyak, mau tidak mau harus mengimpor komoditas tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, kenaikan harga komoditas tersebut akan membuat prospek neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia akan tertekan.

Ibrahim memproyeksi rupiah akan bergerak di level Rp14.150 per dolar AS sepanjang kuartal II/2019.

Di sisi lain, tim riset UOB yang dipimpin oleh Suan Teck Kin mengatakan bahwa jika melihat PDB Indonesia yang belum pulih dan di tengah ketidakpastian sektor eksternal, pihaknya melihat pemotongan suku bunga dari BI justru akan mengurangi dukungan untuk kinerja rupiah.

"Hal tersebut karena Indonesia memiliki defisit fiskal dan transaksi berjalan, ini akan membuat rupiah rentan terhadap pelemahan. Bahkan, bulan lalu, ketika pasar cenderung untuk memilih adanya pemotongan suku bunga dari BI, rupiah justru melemah lagi dari Rp14.000 menjadi Rp14.200 terhadap dolar AS," tulis UOB dikutip dari riset yang bertajuk Laporan Outlook Kuartal II/2019 UOB, Minggu (31/3/2019).

Walaupun demikian, penurunan suku bunga oleh BI dapat dilihat secara positif untuk komunitas investasi sebagai sinyal yang baik bahwa adanya pertumbuhan dan memicu arus masuk investor baru sehingga mendukung rupiah.

Secara keseluruhan, proyeksi pelemahan rupiah dapat diimbangi oleh dovishnya The Fed terhadap kenaikan suku bunganya yang akan menekan laju dolar AS.

Oleh karena itu, UOB memprediksi rupiah akan bergerak di level Rp14.150 per dolar As sepanjang kuartal II/ 2019.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, nilai tukar rupiah

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup