Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Raja Aluminium Rusia Gugat Pemerintah AS

"Saya telah menghabiskan 30 tahun dari kehidupan saya untuk membangun perusahaan yang merupakan pemain utama dalam ekonomi global, dan tidak akan membiarkan kerja keras serta jutaan lapangan pekerjaan yang telah saya buat dihancurkan oleh skema politik," ujar Taipan logam asal Rusia, Oleg Deripaska.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 17 Maret 2019  |  16:04 WIB
Taipan logam asal Rusia, Oleg Deripaska.
Taipan logam asal Rusia, Oleg Deripaska.

Bisnis.com, JAKARTA - Taipan logam asal Rusia, Oleg Deripaska, menggugat Amerika Serikat, mengklaim bahwa mereka telah melampaui batas hukumnya dalam menjatuhkan sanksi dan menjadikannya "korban terbaru" dalam penyelidikan AS atas dugaan campur tangan Rusia pada pemilu AS pada 2016.

Oleg Deripaska, miliarder industri logam, menggugat Departemen Keuangan AS dan Sekretaris Steven Mnuchin di Washington pada hari Jumat (15/3), meminta seorang hakim federal untuk menghapus sanksi pembatasan pada bisnisnya secara global.

"Saya telah menghabiskan 30 tahun dari kehidupan saya untuk membangun perusahaan yang merupakan pemain utama dalam ekonomi global, dan tidak akan membiarkan kerja keras serta jutaan lapangan pekerjaan yang telah saya buat dihancurkan oleh skema politik," ujar Deripaska dalam keterangan resminya, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (17/3/2019).

Sanksi pemerintah AS yang telah membekukan semua asetnya dan melarang mayoritas pebisnis AS untuk bekerja sama dengannya diklaimnya telah mengakibatkan kehancuran total kekayaannya, reputasi, dan mata pencaharian ekonomi Deripaska.

Mengutip Bloomberg, dalam gugatannya dia mengatakan bahwa Kantor Pengendalian Aset Asing Departemen Keuangan AS atau Treasury’s Office of Foreign Assets Control (OFAC) telah menargetkan dirinya secara tidak adil karena membuat dirinya ditutup dari komunitas bisnis internasional dan sistem keuangan global.

Akibat hal tersebut, jumlah kekayaan bersihnya telah turun US$7,5 miliar. Bahkan, indeks Bloomberg Billionaires memperkirakan kekayaan bersihnya kini berjumlah US$3,9 miliar, setelah turun US$5,8 miliar pada tahun lalu, menjadi penurunan yang terbesar di antara taipan lain asal Rusia.

Dalam pengajuan hukumnya, Deripaska meminta Pengadilan Distrik AS di Washington untuk memblokir Departemen Keuangan AS dari menggunakan kekuatan dahsyatnya dari sanksi ekonomi tersebut yang menurutnya tidak sesuai dengan Konstitusi AS.

Deripaska, pendiri produsen aluminium terbesar di dunia di luar China, Rusal dan En+ Group, merupakan salah satu taipan paling terkemuka yang terkena sanksi oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Langkah tersebut menyusul pengesahan undang-undang yang diklaim Presiden Trump untuk membalas Rusia yang telah ikut campur tangan di pemilihan presiden AS pada 2016 silam.

Namun demikian, terlepas dari sanksi tersebut, Rusal masih menunjukan kinerja yang positif pada tahun lalu. Tercatat pendapatan perusahaan itu meningkat sebesar 3,1% sepanjang tahun lalu menjadi US$10,28  miliar, dari US$9,96 miliar pada pada 2017.

Sementara itu, laba bersih perusahaan mencapai US$1,69 miliar atau meningkat 39% secara tahunan dari US$1,22 miliar pada 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aluminium
Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top