Terbebani Konfrontasi India-Pakistan, Bursa Eropa Tergelincir dari Level Tertinggi

Bursa Eropa turun pada akhir perdagangan Rabu (27/2/2019), memutuskan reli kenaikan tiga hari sebelumnya, di tengah meningkatnya tensi antara India dan Pakistan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  06:28 WIB
Terbebani Konfrontasi India-Pakistan, Bursa Eropa Tergelincir dari Level Tertinggi
Indeks Bursa Eropa - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Eropa turun pada akhir perdagangan Rabu (27/2/2019), memutuskan reli kenaikan tiga hari sebelumnya, di tengah meningkatnya tensi antara India dan Pakistan.

Berdasarkan data Reuters, indeks Stoxx 600 Eropa ditutup turun 0,3% dari level tertingginya sejak awal Oktober pada Selasa (26/2). Semua bursa kontinental berada di zona merah kecuali Italia, yang mampu didorong oleh bobotnya yang berat terhadap bank.

Adapun indeks FTSE 100 kembali melemah karena nilai tukar pound sterling bertahan menguat di kisaran level tertinggi lima bulan terhadap dolar AS di tengah harapan baru bahwa Brexit tanpa kesepakatan dapat dihindari.

Investor masih menantikan berita baru mengenai perundingan perdagangan AS-China, tetapi sentimen secara keseluruhan suram akibat tumbuhnya konfrontasi antara India dan Pakistan yang mengguncang kepercayaan investor pada aset-aset yang dianggap berisiko.

“Tensi geopolitik antara Pakistan dan India telah sangat memengaruhi pasar ekuitas mulai dari Tokyo hingga London hari ini, dengan investor khawatir akan terjadi eskalasi lebih lanjut,” kata Pierre Veyret, analis di ActivTrades, seperti dikutip Reuters.

Sementara itu, saham Air France KLM mengalami hari terburuknya dalam lebih dari satu dekade setelah pemerintah Belanda menyatakan akan mengambil 14% porsi kepemilikan di maskapai ini. Langkah ini menyoroti ketegangan antara pihak Belanda dan Prancis di perusahaan itu.

“Kami khawatir bahwa ketegangan di tingkat dewan akan membuat pekerjaan CEO Ben Smith menciptakan masa depan yang bermakna bagi kelompok itu secara signifikan menjadi lebih menantang ketimbang awalnya,” jelas analis Bernstein.

Adapun saham Beiersdorf jatuh ke level terendahnya dua tahun setelah produsen krim kulit Nivea ini mengeluarkan peringatan tentang margin operasi 2019. CEO baru perusahaan ini menyatakan industri barang konsumen berada dalam "kekacauan".

Saham perusahaan barang konsumen lain seperti Unilever, Henkel, dan Reckitt Benckiser ikut terseret turun bersama Beiersdorf, yang melemah 9,8%.

Di samping prospek hasil, Beiersdorf mengatakan akan berinvestasi untuk bersaing dengan merek-merek yang mengganggu sektor ini.

"Beiersdorf telah bergabung dengan Henkel, Colgate, dan Coke di 'klub reset' dalam aksi dramatis pertama oleh CEO baru Stefan de Loecker dan CFO Desi Temperley," kata analis Jefferies, Martin Deboo.

“Tidak mengikuti perkembangan kebutuhan konsumen yang berubah berdampak material pada perusahaan-perusahaan yang sejauh ini tidak banyak melakukan adaptasi dan tidak memiliki pilihan selain berinvestasi untuk mengejar ketinggalan," terang analis UBS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa eropa

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup