Nusantara Infrastructure (META) Genjot Bisnis Energi Terbarukan

PT Nusantara Infrastructure Tbk. menggenjot bisnis energi, khususnya di sektor energi terbarukan yang diyakini bakal berdampak positif bagi kinerja keuangan perseroan.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  07:45 WIB
Nusantara Infrastructure (META) Genjot Bisnis Energi Terbarukan
PT Nusantara Infrastructure Tbk. - Istimewa

Bisnis.com,JAKARTA — PT Nusantara Infrastructure Tbk. menggenjot bisnis energi, khususnya di sektor energi terbarukan yang diyakini bakal berdampak positif bagi kinerja keuangan perseroan.

Deden Rochmawaty, General Manager Corporate Affairs Nusantara Infrastructure mengungkapkan META menjalankan lini bisnis energi melalui entitas anak, PT Energi Infranusantara (EI). Anak usaha tersebut didirikan pada 2012 dengan tujuan berinvestasi di sektor energi, khususnya energi terbarukan.

Pada tahun yang sama, Deden menyebut EI mengakuisisi 45% saham PT Inpola Meka Energi (IME). Perseroan tersebut fokus untuk pengembangan pembangkit hidro, Lau Gunung Hydro Power Plant di Tanah Pinem, Sumatra Utara.

IME direncanakan memiliki kapasitas 15 megawatt. Selain itu, perseroan telah meneken kontrak 20 tahun dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) untuk memasok kepada konsumen di Sumatra.

Selanjutnya, emiten berkode saham META itu, melalui EI, juga telah mengakuisisi 80% saham di PT Rezeki Perkasa Sejahtera Lestari (RPSL) pada 2018. RPSL merupakan independent power producer (IPP) yang menjalankan pembangkit listrik biomasa di Siantan, Mempawah, Kalimantan Barat.

RPSL telah beroperasi selama delapan bulan dengan kapasitas 15 megawatt. Perseroan telah memiliki kontrak untuk memasok 8 megawatt kepada PLN dan menjadi pembangkit biomasa pertama di Kalimantan Barat.

“Kapasitas yang dimiliki saat ini dari dua aset kami, Lau Gunung dan RPSL yakni total 30 megawatt” ujarnya saat dimintai konformasi Bisnis.com, Rabu (20/2/2019).

Dalam wawancara Bisnis.com sebelumnya, Manajemen META mengatakan tengah tengah menggenjot lini bisnis energi, khususnya energi terbarukan. Perseroan menargetkan kapasitas yang dimiliki dapat naik dari 30 megawatt saat ini menjadi 100 megawatt pada akhir 2019.

META menyebut saat ini masih fokus membidik pengembangan energi terbarukan biomasa dan hidro. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan akan melebarkan ke energi terbarukan berbasis energi surya atau solar dan sampah.

Secara keseluruhan, perseoran menargetkan dapat meningkatkan kapasitas bisnis energi menjadi 300 megawatt dalam lima tahun. Pada 2019,  Manajemen memproyeksikan akan terjadi perubahan komposisi khususnya  dari sektor bisnis energi dengan kenaikan kontribusi pendapatan menjadi di kisaran 20%—25% dari sebelumnya kurang dari 10%.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, PT Metro Pacific Tollways Indonesia (MPTI) mengempit kepemilikan 72,94% di perseroan. MPTI merupakan anak usaha dari Metro Pacific Tollways Corporation (MPTC). 

Adapun, MPTC merupakan unit usaha dari Metro Pacific Investments Corporation (MPIC). MPIC menjalankan bisnis manajemen investasi dan pengembangan infrastruktur. 

Dalam struktur pemegang saham perseroan, tercatat perusahaan manajemen investasi dan holding di bawah pimpinan Anthoni Salim, First Pacific Co Ltd, memegang kepentingan ekonomi mencapai 42,0% di MPIC. 

Selain MPTI, PT Indonesia Infrastructure Finance juga mengempit kepemilikan 10,00% di perseroan. Sisanya atau sebesar 17,06% saham dipegang oleh publik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, nusantara infrastructure

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top