MNC Sekuritas: Peluang Kenaikan Harga SUN Kembali Terbuka

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih kembali berpeluang untuk mengalami kenaikan pada perdagangan Rabu (6/2/2019).
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 06 Februari 2019  |  08:45 WIB
MNC Sekuritas: Peluang Kenaikan Harga SUN Kembali Terbuka
Ilustrasi Surat Utang Negara. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih kembali berpeluang untuk mengalami kenaikan pada perdagangan Rabu (6/2/2019).

Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan bahwa hal tersebut didorong oleh perkiraan ekonom mengenai pertumbuhan PDB di kuartal IV/2018 dibandingkan dengan kuartal III/2018 secara year-on-year (yoy). Namun, katalis negatif datang dari imbal hasil surat utang global yang mengalami kenaikan. 
 
"Sementara itu, dari dalam negeri, kami perkirakan para pelaku pasar masih akan melakukan aksi wait and see terlebih dahulu jelang dirilisnya data pertumbuhan GDP Indonesia kuartal IV/2018 pada pekan ini," paparnya dalam riset harian, Rabu (6/2).
 
Dengan kombinasi dari beberapa faktor tersebut, Made menyarankan investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga SUN di pasar sekunder. 
 
Arah pergerakan harga SUN masih akan banyak dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Beberapa seri yang cukup menarik untuk dicermati di antaranya adalah seri FR0077, FR0079, FR0070, FR0069, FR0053, dan FR0056.
 
Pada perdagangan Senin (4/2), harga SUN ditutup menguat didukung oleh katalis positif dari The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 2,25%-2,5% pada pertengahan pekan lalu.
 
Kenaikan harga terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Berharga Negara (SBN), dengan kenaikan mencapai 150 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil sebesar 21 bps. Untuk SBN seri acuan, kenaikan harga yang terjadi mencapai 28 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil yang antara 1,8-4 bps.
 
Kenaikan harga tertinggi didapati pada seri acuan bertenor 10 tahun sebesar 28 bps yang menyebabkan penurunan yield sebesar 4 bps. Diikuti oleh seri acuan bertenor 20 tahun yang mengalami perubahan harga sebesar 20 bps, yang mendorong penurunan tingkat imbal hasil sebesar 2 bps. 
 
Sementara itu, SBN seri acuan bertenor 5 tahun mengalami perubahan harga sebesar 8 bps yang mendorong terjadinya penurunan yield sebesar 2 bps. Adapun seri acuan bertenor 15 tahun mengalami kenaikan harga sebesar 19 bps, yang mengakibatkan penurunan imbal hasil sebesar 2 bps.
 
Pelaku pasar merespons dipertahankannya Fed Fund Rate (FFR) dengan melakukan pembelian SBN di pasar sekunder, sehingga mendorong terjadinya kenaikan harga terutama pada tenor menengah dan panjang. 
 
Pada awal pekan ini, pergerakan harga SUN berdenominasi dolar AS terlihat mengalami penurunan di tengah melemahnya imbal hasil US Treasury. Perubahan harga terjadi di sebagian besar seri.
 
Imbal hasil INDO24 naik 2 bps ke level 3,741% setelah mengalami koreksi harga sebesar 9,5 bps. Selanjutnya, yield INDO29 mengalami kenaikan 3,3 bps ke level 4,105% setelah mengalami penurunan harga sebesar 28,20 bps. 
 
Sementara itu, INDO44 dan INDO49 mencatatkan perubahan imbal hasil masing-masing sebesar 0,7 bps ke level 4,938% dan 2,5 bps ke level 4,866% yang disebabkan oleh pergerakan harga yang mengalami koreksi masing-masing sebesar 12 bps dan 42 bps.
 
Volume perdagangan SBN yang dilaporkan pada perdagangan di awal pekan menurun dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yakni senilai Rp10,91 triliun dari 36 seri yang diperdagangkan.

Volume perdagangan tertinggi didapati pada SBN seri acuan, yaitu FR0078, senilai Rp2,725 triliun dari 84 kali transaksi. Diikuti SUN seri FR0068 dengan nilai Rp1,207 triliun untuk 38 kali transaksi. 
 
Volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan sebesar Rp1,52 triliun dari 35 seri obligasi yang ditransaksikan.
 
Volume perdagangan terbesar didapati pada seri Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank III Tahap IV Tahun 2017 Seri B (BEXI03BCN4) senilai Rp280 miliar dari 5 kali transaksi. Diikuti Obligasi Berkelanjutan Indonesia Eximbank III Tahap IV Tahun 2017 Seri C (BEXI03CCN4) dan seri Obligasi Berkelanjutan IV Adira Finance Tahap IV Tahun 2019 Seri A (ADMF04ACN4), masing-masing senilai Rp200 miliar dari 4 kali transaksi dan Rp155 miliar untuk 9 kali transaksi.

Sementara itu, rupiah mengalami pelemahan sebesar 14,00 pts (0,10%) ke level 13961,50 per dolar AS.  Pelemahan terjadi di tengahkoreksi mata uang regional terhadap dolar AS.

Satu-satunya mata uang regional yang mengalami penguatan terbatas adalah ringgit Malaysia, yang naik 0,06.

Adapun pelemahan terdalam terjadi pada rupee India (INR) dan yen Jepang (JPY), masing-masing turun 0,62% dan 0,35%.
 
Di sisi lain, dolar Hong Kong (HKD), renminbi China (CNY), won Korea Selatan (KRW),serta dolar Taiwan (TWD) tidak mengalami perubahan nilai tukar mata uang. Hal ini dikarenakan pasar di keempat negara tersebut libur yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek.
 
Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup melemah 93 bps ke level 2,70% dan untuk tenor 30 tahun terkoreksi 76 bps ke level 3,03%, di tengah kondisi pasar saham AS yang bergerak positif. 
 
Indeks DJIA ditutup menguat 68 bps pada level 25411,52 dan indeks NASDAQ naik 74 bps sehingga berada pada level 7402,08. 
 
Sementara itu, pasar obligasi Inggris (Gilt) bertenor 10 tahun mengalami pelemahan sehingga berada pada level 1,23% dan tenor 30 tahun juga ikut melemah ke level 1,734%. Adapun pasar obligasi Jerman (Bund) bertenor 10 tahun bergerak positif ke level 0,171%.
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top