Pilarmas Investindo: SUN Berpotensi Menguat Terbatas Jelang Imlek

Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan pasar obligasi masih dalam posisi menguat pada perdagangan Senin (4/2/2019), dengan potensi menguat terbatas menjelang libur Imlek.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 04 Februari 2019  |  10:18 WIB
Pilarmas Investindo: SUN Berpotensi Menguat Terbatas Jelang Imlek
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luki Alfirman (kiri) dan Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kemenkeu Dwi Irianti Hadiningdyah (kanan), menggandeng Youtuber dengan subscriber terbesar di Asia Tenggara, Atta Halilintar (tengah) untuk mempromosikan instrumen sukuk negara tabungan seri ST-003 yang mulai dipasarkan pada Jumat (1/2/2019). - Bisnis/Emanuel B. Caesario

Bisnis.com, JAKARTA -- Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan pasar obligasi masih dalam posisi menguat pada perdagangan Senin (4/2/2019), dengan potensi menguat terbatas menjelang libur Imlek.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan bahwa total perdagangan dan frekuensi diperkirakan juga akan turun dibandingkan hari perdagangan sebelumnya. 

Namun, ada beberapa hal yang harus dicermati, khususnya pekan ini. Awal Februari 2019 dinilai akan menjadi awal yang baik bagi AS dan China, terutama ketika AS mengirimkan delegasinya untuk berkunjung ke China untuk menggelar diskusi lebih lanjut mengenai permasalahan perang dagang. 

Apabila pertemuan kedua ini berjalan dengan baik, besar harapan capital inflow akan mulai masuk kembali ke emerging market

Sementara itu, para pelaku pasar dan investor ritel yang ingin belajar mengenai investasi di obligasi, sudah mulai dapat melirik ST 003. Dengan kupon yang menarik, seri ini akan menjadi bekal yang bagus untuk sosialisasi dan edukasi mengenai investasi di obligasi. 

"Kami merekomendasikan beli hari ini dengan volume kecil hingga menengah," paparnya dalam riset harian, Senin (4/2).

Sementara itu, perdagangan Jumat (1/2) ditandai oleh penguatan rupiah hingga di bawah Rp14.000. Rupiah ditutup menguat di level Rp13.945 dibandingkan hari sebelumnya, yang sebesar Rp13.973.
 
Nico menyatakan tentu hal ini bukan perjuangan yang mudah dan baru bisa dikatakan cukup berhasil jika level di bawah Rp14.000 bisa konsisten terjaga. 
 
"Penguatan rupiah yang di bawah Rp14.000 tentu berita baik untuk impor kita karena akan mengurangi total pembelajaan, yang akan membuat neraca defisit kita sedikit lebih sehat," tuturnya.
 
Imbal hasil obligasi Zona Amerika ditutup bervariasi didominasi oleh kenaikan imbal hasil. Kenaikan imbal hasil terbesar terjadi di Kanada (1,95%, +7,8%), sedangkan penurunan terbesar di Brasil (8,67%, -17,1%). 

Imbal hasil wilayah Zona Eropa ditutup mengalami naik di semua negara, kecuali Siprus (1,93%, -0,3%). Kenaikan imbal hasil terbesar ada di Italia (2,74%, -15,7). 

Imbal hasil Asia Pasifik ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikan tertinggi terjadi di India (7,37%, +9,2) dan penurunan terdalam di Filipina (6,16%, -14,7%). 
 
Imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup turun ke level 7,89% dari sebelumnya di posisi 8,01%. Imbal hasil obligasi Indonesia 20 tahun ditutup turun menjadi 8,28% dibandingkan hari sebelumnya, yang sebesar 8,48%.

Adapun minyak Texas ditutup naik di harga US$55,26 per barel dibandingkan hari sebelumnya yang sebesar US$53,79.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
imlek, surat utang negara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top