Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Intiland (DILD) Raih Pinjaman Rp2,8 Triliun dari Sindikasi BNI & BCA

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied, Noto Pradono mengatakan kredit sindikasi tersebut diperoleh dari PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) masing-masing memberikan pinjaman senilai Rp1,63 triliun dan Rp1,17 triliun. Intiland memperoleh bunga pinjaman sebesar 10,5% per tahun.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 30 Januari 2019  |  16:51 WIB
CEO PT Intiland Development Tbk Hendro Gondokusumo (dari kiri) berbincang dengan Direktur Pemasaran Susan Pranata, dan Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Archied Noto Pradono di sela-sela konferensi pers, di Senayan City, Jakarta, Kamis (12/10). - JIBI/Endang Muchtar
CEO PT Intiland Development Tbk Hendro Gondokusumo (dari kiri) berbincang dengan Direktur Pemasaran Susan Pranata, dan Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Archied Noto Pradono di sela-sela konferensi pers, di Senayan City, Jakarta, Kamis (12/10). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti, PT Intiland Development Tbk.memperoleh kredit sindikasi senilai Rp2,8 triliun untuk refinancing dan memperkuat kredit modal kerja.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono mengatakan kredit sindikasi tersebut diperoleh dari PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) masing-masing memberikan pinjaman senilai Rp1,63 triliun dan Rp1,17 triliun. Intiland memperoleh bunga pinjaman sebesar 10,5% per tahun.

“Pemberian pembiayaan ini merupakan wujud kepercayaan sektor perbankan terhadap prospek usaha perseroan. Pengucuran fasilitas kredit sindikasi ini akan memberikan dampak positif bagi Intiland untuk mengeksekusi rencana-rencana strategi dan memperkuat struktur keuangan,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

Archied mengatakan kredit sindikasi akan digunakan untuk refinancing obligasi yang akan jatuh tempo pada 29 Juni 2019. Sebagai informasi, emiten bersandi saham DILD telah menerbitkan obligasi II senilai Rp590 miliar yang terbagi dalam dua seri yakni seri A senilai Rp428 miliar dengan tingkat bunga 10,75% dan seri B senilai Rp162 miliar.

Obligasi seri A akan jatuh tempo pada 29 Juni 2019. Archied mengatakan, untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo, perseroan telah memperoleh pinjaman dan bakal dibayarkan saat obligasi jatuh tempo.

Refinancing tersebut, katanya, mamberikan manfaat positif sebab perseroan memperoleh beban biaya bunga, proses administrasi yang mudah serta memperbaiki struktur keuangan. Selain untuk refinancing, DILD akan menggunakan kredit sindikasi untuk modal kerja.

Selain membayar obligasi yang bakal jatuh tempo, DILD bakal melakukan refinancing pinjaman bank senilai Rp2,16 triliun dan sisa kredit sindikasi senilai Rp221,67 miliar untuk modal kerja.

Direktur Bisnis Korporasi BBNI Putrama Wahju Setyawan mengungkapkan, penyaluran kredit sindikasi dengan BBCA kepada korporasi sektor properti merupakan bentuk dukungan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dalam perjanjian kredit sindikasi, selain sebagai join mandated lead arranger dan bookrunner, BBNI juga berperan sebagai facility agent dan escrow agent.

“Pemberian kredit sindikasi ini merupakan sinergi bank BUMN dengan perbankan swasta dalam memicu penyaluran kredit ke sektor properti,” katanya.

Pada 2018, DILD membukukan marketing sales senilai Rp2,28 triliun, atau lebih rendah dari 2017 senilai Rp2,93 triliun. Kendati begitu, perseroan berhasil meningkatkan recurring income yang meningkat 12,8% year on year menjadi Rp595,7 miliar pada 2018, dari posisi Rp528,2 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

intiland
Editor : Fajar Sidik

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top