Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pemesanan SBR005 Terbatas

Rencana pemerintah untuk lebih sering menerbitkan instrumen surat berharga negara (SBN) ritel tahun ini ditengarai menyebabkan banyak investor menunda membeli instrumen saving bond retail seri SBR005 yang ditawarkan pemerintah bulan ini.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 24 Januari 2019  |  07:28 WIB
Direktur SUN DJPPR Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting (tengah) berbincang bersama Dirut KSEI Frederica Widyasari Dewi (kanan) dan Prita Hapsari Ghozie, Financial Planner and Educator, Co-founder zapfinance saat peluncuran SBR005, Kamis (10/1/2019)./Bisnis - Emanuel B. Caesario
Direktur SUN DJPPR Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting (tengah) berbincang bersama Dirut KSEI Frederica Widyasari Dewi (kanan) dan Prita Hapsari Ghozie, Financial Planner and Educator, Co-founder zapfinance saat peluncuran SBR005, Kamis (10/1/2019)./Bisnis - Emanuel B. Caesario

Bisnis.com, JAKARTA—Rencana pemerintah untuk lebih sering menerbitkan instrumen surat berharga negara (SBN) ritel tahun ini ditengarai menyebabkan banyak investor menunda membeli instrumen saving bond retail seri SBR005 yang ditawarkan pemerintah bulan ini.

Berdasarkan data Investree.id, yakni salah satu mitra distribusi SBR005, pemesanan atas instrumen ini hingga Rabu (23/1/2019) pukil 18.00 baru mencapai Rp3,75 triliun atau 75% dari target pemerintah Rp5 triliun.

Masa penawaran instrumen ini akan berakhir hari ini, Kamis (24/1) pukul 10.00 WIB. Pemesanan investor ritel atas instrumen ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan seri SBR003 yang terbit tahun lalu, yang mencapai Rp7,32 triliun.

Padahal, tingkat kupon awal instrumen ini lebih tinggi, yakni 8,15%, sedangkan SBR004 tahun lalu sebesar 8,05%. Hanya saja, masa penawaran seri SBR005 hanya 2 pekan, sedangkan SBR004 mencapai 4 pekan.

Maklum, pemerintah tahun ini akan menerbitkan satu instrumen SBN ritel hampir setiap bulan, sehingga waktu penawaran untuk masing-masing instrumen akan terbatas. Total instrumen yang akan terbit mencapai 10 seri tahun ini.

Anil Kumar, Portofolio Manager Ashmore Asset Management Indonesia, mengatakan bahwa kesempatan investor untuk membeli instrumen SBN ritel cukup luas tahun ini, sebab kebanyakan investor sudah tahu bahwa pemerintah akan menerbitkan 10 instrumen tahun ini.

Kesepuluh instrumen tersebut terdiri atas empat seri SBR dan empat seri sukuk tabungan (ST), lalu masing-masing satu seri obligasi ritel Indonesia (ORI) dan sukuk ritel (SR/sukri). SBR dan ST merupakan instrumen bersifat tabungan dan tidak dapat ditransaksikan di pasar sekunder, sedangkan ORI dan sukri bisa ditransaksikan.

Anil menduga, kesadaran terhadap banyaknya instrumen yang akan diterbitkan tahun ini menyebabkan beberapa investor merasa cukup percaya diri untuk menahan diri atau tidak terburu-buru masuk pada awal tahun.

Di sisi lain, instrumen lain seperti reksa dana saham mencatatkan return yang cukup tinggi pada awal tahun ini, tercermin dari kinerja IHSG yang juga tumbuh tinggi, mencapai 4,14% secara year-to. Beberapa manager investasi cukup berhasil untuk mengalahkan pasar.

Anil menilai, beberapa investor mungkin untuk sementara beralih ke instrumen reksa dana saham atau masih bertahan di deposito perbankan. Kendati begitu, dirinya mengaku cukup heran dengan keputusan investasi tersebut, sebab profil instrumen SBR005 menurutnya sangat menarik.

“Saya rasa mungkin ini anomali saja di bulan ini. Mestinya pada penerbitan instrumen selanjutnya di bulan-bulan mendatang akan semakin lumayan investor yang masuk. Dalam jangka panjang mestinya obligasi akan lebih menarik,” katanya, Rabu (23/1/2019).

Anil mengatakan, peluang bagi suk bunga BI 7 Days Repo Rate untuk kembali turun tahun ini cukup tinggi, terutama pada kuartal IV tahun ini. Artinya, peluang bagi penurunan imbal hasil instrumen SBN secara umum cukup terbuka.

Instrumen SBR005 menjadi sangat menarik sebab kuponnya bersifat floating with floor, yakni mengambang dengan kupon minimal, yakni 8,15%. Kupon ini terbentuk dari BI 7 DRR sebesar 6% ditambah spread tetap 215 bps. Bila BI 7DRR turun di bawah 6%, kupon SBR005 akan tetap di 8,15%.

Saat ini pun, kupon SBR005 sudah lebih tinggi dibandingkan yield instrumen surat utang negara (SUN) tenor yang sama, yakni 2 tahun, yang kini di kisaran 7,36 %. Instrumen ini cocok bagi investor yang memiliki dana menganggur.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, sependapat bahwa bila menimbang rutinnya penerbitan instrumen ini sepanjang tahun ini, cukup wajar bila permintaan investor di seri perdana tahun ini relatif terbatas.

Menurutnya, capaian pemasaran antara Rp3,5 triliun hingga Rp4 triliun sudah tergolong cukup berhasil, meskipun memang lebih rendah dari target pemerintah Rp5 triliun. Tidak lama setelah seri ini, investor sudah akan ditawari seri baru lagi tahun depan, sehingga investor masih bisa masuk lagi.

Di sisi lain, proses sosialisasi dan edukasi juga masih terus berlanjut. Dirinya berharap di masa mendatang akan semakin banyak investor yang masuk di SBN ritel seiring meningkatnya pemahaman. Untuk itu, pemerintah sebaiknya tetap mempertahankan tingkat kupon yang tinggi di seri-seri mendatang.

“Masyarakat sekarang sudah lebih bisa menjadi fund manager untuk dirinya sendiri, mengatur keuangannya sendiri. Dengan ketersediaan instrumen yang ready sepanjang tahun, mereka bisa menentukan rencana investasinya lebih leluasa,” katanya.

Sebelumnya, Direktur SUN DJPPR Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting, mengatakan bahwa pemerintah berharap investor dapat sedini mungkin mengambil keputusan investasi tahun ini. Pasalnya, pemerintah akan kembali melakukan strategi front loading.

Penerbitan SBN akan lebih banyak dilakukan di awal tahun, sehingga bisa jadi beberapa instrumen yang semula sudah direncanakan akan terbit di akhir tahun justru dibatalkan bila target pemerintah tercapai.

“Jangan sampai nanti tidak kebagian di akhir tahun,” katanya.

 
 
 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi
Editor : Riendy Astria

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top