Tekanan Global Patahkan Reli Penguatan IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi di zona merah pada perdagangan hari ini, Senin (14/1/2019), mematahkan reli penguatan yang mampu dibukukan tiga hari berturut-turut sebelumnya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  17:48 WIB
Tekanan Global Patahkan Reli Penguatan IHSG
Karyawan beraktivvitas di dekat papan penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi di zona merah pada perdagangan hari ini, Senin (14/1/2019), mematahkan reli penguatan yang mampu dibukukan tiga hari berturut-turut sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG ditutup turun 0,40% atau 25,35 poin di level 6.336,12 dari level penutupan perdagangan Jumat (11/1) ketika mampu berakhir menguat 0,52% atau 32,75 poin di posisi 6.361,46, kenaikan pada hari ketiga.

Penurunan yang dibukukan IHSG pada akhir perdagangan hari ini adalah yang terbesar sejak turun 0,6% pada 26 Desember.

Indeks mulai tergelincir ke zona merah dengan dibuka turun 0,16% atau 10,14 poin di level 6.351,33 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di kisaran 6.302,40 – 6.359,87.

Tujuh dari sembilan sektor dalam IHSG berakhir di zona merah, dipimpin sektor aneka industri (-1,24%) dan perdagangan (-1,03%). Adapun sektor tambang dan finansial berhasil mengakhiri pergerakannya di zona hijau meski cenderung tipis.

Berdasarkan data Bloomberg, dari 625 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 157 saham menguat, 268 saham melemah, dan 200 saham stagnan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) yang masing-masing turun 1,56% dan 6,47% menjadi penekan utama terhadap koreksi yang dialami IHSG.

Di sisi lain, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. (TELE) yang masing-masing naik 1,61% dan 23,18% menjadi pendorong utama sekaligus membatasi besarnya koreksi IHSG.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 berakhir melemah 0,70% atau 3,98 poin di level 565,95, tergelincir dari reli penguatan tiga hari beruntun sebelumnya.

Indeks saham lainnya di Asia juga memerah pada perdagangan hari ini. Indeks FTSE KLCI Malaysia ditutup turun 0,42%, indeks FTSE Straits Times Singapura melemah 0,79%, sedangkan indeks SE Thailand melorot 0,91%.

Indeks Kospi Korea Selatan berakhir turun 0,53%, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing berakhir melemah 0,71% dan 0,87%.

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini sejalan dengan pergerakan bursa global dan masih minimnya sentimen dalam negeri.

Pada umumnya, bursa emerging market turun pada perdagangan hari ini, setelah data ekspor China yang lebih lemah dari perkiraan memicu kekhawatiran akan semakin parahnya perlambatan pada negara berkekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Berdasarkan data Administrasi Bea Cukai China, ekspor dalam dolar turun 4,4% pada Desember dari bulan yang sama tahun sebelumnya, sementara impor turun 7,6% pada periode yang sama. Penurunan ekspor dan impor tersebut merupakan yang terburuk sejak 2016.

Dengan penurunan ekspor dan impor tersebut, neraca perdagangan dalam denominasi dolar AS meningkat menjadi US$57,1 miliar pada Desember.

Bursa saham daratan China pun melemah setelah kontraksi tak terduga dalam ekspor China pada Desember memperkuat kekhawatiran bahwa tarif AS untuk barang-barang China telah memberi tekanan besar pada ekonomi Tiongkok.

Melemahnya permintaan di China telah berkontribusi pada memburuknya prospek pertumbuhan global, dengan melambatnya penjualan barang mulai dari iPhone hingga mobil. Investor khawatir perlambatan yang berkepanjangan hanya akan memperburuk pasar.

“Ini mengingatkan kembali para pelaku pasar bahwa ekonomi global, dalam pandangan kami, menghadapi perlambatan sementara karena kami melihat kekosongan dari beberapa pemuatan perdagangan global akhir tahun lalu,” kata Jakob Christensen, kepala analis dan kepala riset emerging market di Danske Bank.

Menurut analis Nomura, pertumbuhan ekspor yang lebih lesu dapat menunjukkan bahwa pemerintah China mungkin akan lebih bersemangat untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan pemerintah Amerika Serikat.

“Selain itu, pembuat kebijakan perlu mengambil langkah-langkah yang lebih agresif untuk menstabilkan pertumbuhan PDB,” lanjutnya, seperti dikutip Reuters.

Saham-saham penekan IHSG:                                                       

Kode

(%)

HMSP

-1,56

UNTR

-6,47

BBCA

-0,95

ASII

-1,81

TPIA

-1,72

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

BBRI

+1,61

TELE

+23,18

PNBN

+4,29

MNCN

+7,89

TOPS

+3,01

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top