WTI Catat Reli Terpanjang Dalam Satu Dekade

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari naik 0,4% atau 0,23 poin ke level US$52,59 per barel di New York Mercantile Exchange. WTI telah meningkat selama sembilan hari berturut-turut, dan telah naik 24% sejak mencapai titik terendah pada Malam Natal.
Aprianto Cahyo Nugroho | 11 Januari 2019 07:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah memperpanjang reli penguatan menjadi yang terpanjang dalam hampir satu dekade terakhir ketika pendekatan wait-and-see Federal Reserve pada kenaikan suku bunga menambah prospek yang lebih cerah.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari naik 0,4% atau 0,23 poin ke level US$52,59 per barel di New York Mercantile Exchange. WTI telah meningkat selama sembilan hari berturut-turut, dan telah naik 24% sejak mencapai titik terendah pada Malam Natal.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Maret menguat 0,24 poin atau 0,39% ke level US$61,68 per barel di ICE Futures Europe Exchange di London, dan diperdagangkan lebih tinggi US$8,77 dibanding WTI untuk bulan yang sama.

Minyak mentah patokan global ini juga telah melonjak lebih dari 20% sejak 24 Desember, memenuhi definisi umum untuk pasar bullish.

Analis komoditas TD Securities, Daniel Ghali mengatakan harga minyak telah pulih di tengah sinyal bahwa pembatasan produksi oleh koalisi OPEC+ akan menyeimbangkan pasar.

Selain itu, komentar Gubernur The Fed Jerome Powell bahwa bank sentral akan bersabar sebelum menyesuaikan kembali suku bunga juga meyakinkan investor.

"Kami telah melihat beberapa peristiwa positif sejak pasar jatuh, Dengan komitmen OPEC, prospek minyak mentah jauh lebih suram daripada yang diperkirakan beberapa orang," kata Ghali, seperti dikutip Bloomberg.

Minyak masih turun sekitar 30% sejak mencapai level tertinggi empat tahun pada Oktober. Ghali mengungkapkan investor harus terbiasa dengan fluktuasi, karena bank-bank sentral di seluruh dunia menarik stimulus, sehingga menambah volatilitas di seluruh pasar.

Persediaan AS

Reli terus berlangsung pekan ini meskipun persediaan bahan bakar tumbuh cepat. Meskipun Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah menyusut 1,68 juta barel pekan lalu, ada peningkatan substansial dalam produk olahan seperti bensin.

Risiko pasokan berlebih telah menggerakkan Arab Saudi, produsen terbesar OPEC, untuk mencoba dan meyakinkan pasar bahwa mereka dan mitranya akan mengambil tindakan.

Menteri Energi Saudi, Khalid Al-Falih mengatakan di Riyadh pada Rabu (9/1) bahwa pengurangan 1,2 juta barel per hari yang dijanjikan oleh OPEC akan lebih dari cukup untuk menyeimbangkan pasar.

Dia menambahkan bahwa dia tidak akan mengesampingkan untuk menyerukan tindakan lebih lanjut  jika strategi saat ini terbukti tidak memadai.

"Pesimisme pelaku pasar pada akhir tahun itu berlebihan, jadi kami memperkirakan harga akan naik," kata Eugen Weinberg, kepala riset komoditas di Commerzbank AG di Frankfurt.

"Namun, untuk kenaikan harga lebih lanjut, diperlukan tindakan tegas oleh OPEC," lanjutnya.

Tag : harga minyak mentah
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top