Pejabat The Fed Dukung Penaikan Suku Bunga, Dolar AS Kokoh

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) mampu mempertahankan momentum penguatannya pada perdagangan pagi ini, Rabu (28/11/2018), setelah seorang pejabat senior Federal Reserve menegaskan kembali perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Renat Sofie Andriani | 28 November 2018 11:28 WIB
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar Amerika Serikat (AS) mampu mempertahankan momentum penguatannya pada perdagangan pagi ini, Rabu (28/11/2018), setelah seorang pejabat senior Federal Reserve menegaskan kembali perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama di dunia naik 0,002 poin ke level 97,371 pada pukul 10.49 WIB, setelah berakhir menguat 0,3% atau 0,295 poin di posisi 97,369 pada perdagangan Selasa (27/11).

Dilansir dari Reuters, dolar AS telah berada di bawah tekanan baru-baru ini akibat tanda-tanda bahwa bank sentral AS tersebut mungkin memperlambat laju kenaikan suku bunganya di masa mendatang di tengah perlambatan pertumbuhan global serta kekhawatiran tentang perdagangan dunia, investasi, dan kinerja keuangan perusahaan.

Namun, pada Selasa (27/11) Wakil Gubernur Federal Reserve, Richard Clarida, mendukung kenaikan suku bunga lebih lanjut meskipun ia mengatakan jalur pengetatan akan bergantung pada data ekonomi.

Menurutnya, pemantauan data ekonomi telah menjadi sesuatu hal yang bersifat lebih kritis seiring dengan mendekatnya The Fed pada tingkat netral.

“Komentar Clarida pasti bergantung pada hawkishness, kami memperkirakan The Fed akan tetap konsisten dan menyesuaikan kebijakan moneter sesuai dengan data ekonomi yang masuk yang sejauh ini cukup kuat,” kata Stephen Innes, kepala perdagangan APAC di Oanda.

“Kami memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember dan sebanyak 3 kali pada 2019.”

Pada saat yang sama, dukungan terhadap penguatan dolar AS juga datang dari minat investor terhadap sifat safe haven mata uang ini di tengah memanasnya tensi perdagangan antara AS dan China.

Penguatan dolar AS, lanjut Innes, juga mencerminkan risiko sekitar KTT G20 yang akan datang di Buenos Aires pada 30 November-1 Desember, dimana Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping direncanakan bertemu dan membahas isu-isu perdagangan antara kedua negara.

Komentar yang disampaikan pekan ini oleh Trump dalam sebuah wawancara dengan Wall Street Journal mengenai sangat kecilnya kemungkinan soal menerima permintaan China untuk menunda kenaikan tarif yang direncanakan, telah membebani aset berisiko sekaligus mendorong data tarik mata uang safe haven termasuk dolar AS dan yen Jepang.

Perhatian pasar kemudian akan beralih pada pidato Gubernur The Fed Jerome Powell pada hari ini waktu setempat dan risalah rapat The Fed pada 7-8 November yang akan dirilis Kamis, demi mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang potensi banyaknya kenaikan suku bunga pada 2019.

Trump telah berulang kali mengkritik The Fed dan Powell tentang sikap kebijakan moneter bank sentral AS tersebut, dengan mengatakan bahwa kenaikan suku bunga AS merugikan ekonomi.

“The Fed menikmati independensi dan pendekatan mereka sangat matematis dan sistematis. Dalam situasi apa pun kita tidak mengharapkan bank sentral AS akan ditekan oleh Trump,” kata Innes.

Posisi indeks dolar AS  

28/11/2018

(Pk. 10.49 WIB)

97,371

(+0,002 poin)

27/11/2018

 

97,369

(+0,30%)

26/11/2018

97,074

(+0,16%)

23/11/2018

96,916

(+0,21%)

22/11/2018

96,712

(0%)

Sumber: Bloomberg

Tag : dolar as
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top