Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Rebound, Sentimen Kelebihan Suplai Tetap Menghantui

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) memulihkan sebagian pelemahannya dan diperdagangkan di kisaran level US$51 per barel pada perdagangan siang ini, Senin (26/11/2018), di tengah kekhawatiran atas kelebihan suplai global.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 November 2018  |  15:41 WIB
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) memulihkan sebagian pelemahannya dan diperdagangkan di kisaran level US$51 per barel pada perdagangan siang ini, Senin (26/11/2018), di tengah kekhawatiran atas kelebihan suplai global.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Januari 2019 menguat 1,19% atau 0,60 poin ke level US$51,02 per barel di New York Mercantile Exchange pukul 14.37 WIB, setelah dibuka dengan kenaikan 0,40% di level 50,62.

Harga minyak Brent untuk pengiriman Januari 2019 juga menguat 1,72% atau 1,01 poin ke level US$59,81 per barel di ICE Futures Europe Exchange yang berbasis di London, setelah dibuka dengan kenaikan 0,31% di posisi 58,98.

Minyak WTI rebound setelah berakhir anjlok 7,71% atau 4,21 poin di level US$50,42 per barel pada perdagangan Jumat (23/11), sedangkan minyak Brent rebound dari pelemahan tajamnya sebesar 6,07% atau 3,80 poin di posisi 58,80 pada Jumat.

Dilansir dari Bloomberg, Menteri perminyakan Arab Saudi Khalid Al-Falih pekan lalu mengindikasikan bahwa produksi minyak Saudi telah meningkat di atas 10,7 juta barel.

Khalid Al-Falih juga mengatakan bahwa karena permintaan untuk minyak mentah Saudi mungkin akan lebih rendah pada bulan Januari dibandingkan dengan bulan Desember, negaranya tidak akan mengekspor minyak yang tidak dibutuhkan pelanggan.

Pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump terus menyerukan harga minyak yang lebih rendah. Trump menegaskan kembali pandangannya bahwa jatuhnya harga minyak adalah sesuatu yang baik bahkan ketika minyak acuan AS mengalami penurunan terdalam sejak Januari 2016 pada pekan lalu.

Komentar-komentar yang menentang kenaikan harga minyak kerap dituliskan oleh Trump di Twirtter. Dalam hal ini, Arab Saudi mungkin melakukan bagiannya untuk menurunkan harga di tengah meningkatnya tekanan dari Trump. Pekan lalu Trump mengucapkan terima kasih kepada Arab Saudi untuk harga minyak yang lebih rendah.

Harga minyak mentah AS telah bergerak mendekati ambang batas US$50 ketika minyak Iran terus mengaliri pasar setelah Presiden Trump memberikan keringanan kepada sejumlah negara. Sementara itu persediaan yang tumbuh di AS meningkatkan prospek pasokan global yang lebih tinggi.

Para pedagang saat ini mencermati apakah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya akan memutuskan untuk memangkas output ketika menggelar pertemuan pada awal bulan depan di Wina.

OPEC dan sekutunya akan bertemu pada 6 Desember di Wina, tetapi arah harga minyak pada tahun depan mungkin akan diputuskan akhir pekan ini ketika para pembuat keputusan berkumpul di sela-sela KTT G20 di Buenos Aires.

“Saat semua mata tertuju pada apa yang akan diputuskan OPEC dalam pertemuan yang akan datang, para investor melihat keseimbangan pasokan dan permintaan yang melonggar,” ujar Tomomichi Akuta, seorang ekonom senior di Mitsubishi UFJ Research and Consulting Co.

“Saudi mungkin harus mempertimbangkan harapan Trump untuk harga minyak mentah yang lebih rendah,” lanjutnya, seperti dikutip Bloomberg.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah wti
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top