Ini Mata Analis Soal Penguatan Rupiah Setelah Kenaikan BI7DRR

Rupiah kembali menguat setelah Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga. Padahal BI diperkirakan baru akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun, bersama dengan kenaikan suku bunga selanjutnya dari Amerika Serikat.
Mutiara Nabila | 15 November 2018 21:30 WIB
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah kembali menguat setelah Bank Indonesia kembali menaikkan BI-7Day Repo Rate atau suku bunga. Padahal BI diperkirakan baru akan menaikkan BI7DRR pada akhir tahun, bersama dengan kenaikan suku bunga selanjutnya dari Amerika Serikat.

Pada perdagangan Kamis (15/11) rupiah ditutup menguat 122 poin atau 0,83% menjadi Rp14.665 per dolar AS dan mencatatkan pelemahan 7,56% secara year-to-date (ytd).

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim menilai bahwa seharusnya BI belum perlu menaikkan suku bunga karena data ekonomi Indonesia masih cukup bagus.

“Kita melihat dari internal, neraca perdagangan Indonesia pada Oktober masih tidak terlalu jauh dari ekspektasi, kan di atas US$2 miliar, tapi ternyata nilainya hanya US$1,82 milia, ini cukup bagus,” ungkapnya dihubungi Bisnis, Kamis (15/11/2018).

Dalam survei pun orang banyak pengamat yang menganggap kalau BI akan menaikkan suku bunga pada Desember, tapi ternyata BI menaikkan suku bunganya sekarang. Ibrahim memperkirakan hal ini karena menantikan data neraca perdagangan Oktober.

“Kalau defisitnya tajam akan melemahkan rupiah,” lanjutnya.

Untuk jangka panjang, kenaikan suku bunga umumnya akan berpengaruh pada permodalan, terutama dalam peminjaman kredit, kredit mobil, dan rumah. Di sisi lain, penguatan rupiah juga terdorong dari faktor eksternal yang cukup bagus.

“Masalah Brexit sudah positif, Perdana Menteri Inggris mendapat dukungan dari kabinetnya untuk melakukan Brexit sehingga membuat indeks dolar AS mengalami pelemahan. China juga menyampaikan tanggapan tertulis untuk melakukan pembicaraan perdagangan pada pekan depan, hal itu memunculkan ekspektasi bahwa perang dagang ini akan mereda,” papar Ibrahim.

Tanpa BI melakukan kenaikan suku bunga, rupiah diprediksi sudah bisa menguat ke Rp14.500-an per dolar AS. Akan tetapi dengan BI menaikkan suku bunga, seharusnya rupiah bisa di bawah Rp14.490 per dolar AS.

Penguatan rupiah jika penyebabnya dari karena kenaikan suku bunga, maka efeknya hanya akan jangka pendek. Apabila ingin jangka panjang, Pemerintah dan BI dinilai Ibrahim harus kembali mengeluarkan stimulus

“Stimulus ada kemungkinan besar dari Menteri Keuangan akan kembali melakukan pengampunan pajak, ini bisa mempengaruhi penguatan rupiah secara jangka panjang,” ungkapnya.

Penguatan mata uang Garuda kali ini tidak hanya tertopang oleh kenaikan suku bunga BI, tapi utamanya masih dari eksternal dengan Brexit yang positif dan rencana diskusi dagang AS dan China pada akhir bulan yang diperkirakan bisa meredakan tensi perang dagang.

Kalau perang dagang ada solusinya, Ibrahim memproyeksikan rupiah bisa kembali menguat. Untuk sepekan ke depan, rupiah diproyeksikan dapat bergerak di kisaran Rp14.490 – Rp14.820 per dolar AS. Setelah pembicaraan AS dan China, kalau ada hasil positif, bisa menuju ke Rp14.490 per dolar AS.

“Kenaikan suku bunga ini diluar ekspektasi, berarti dari BI ada strategi sendiri yang tidak ada orang yang tahu. Sebenarnya BI tidak boleh jor-joran menaikkan suku bunga, karena akan menghambat pinjaman, leasing. Kita tahu bahwa sekarang banyak kreditur yang mengalami kemacetan.”

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top