Kiwoom Sekuritas: Pasar Obligasi Diperkirakan Dibuka Melemah Terbatas

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas pada perdagangan Selasa (6/11/2018).
Emanuel B. Caesario | 06 November 2018 09:13 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas pada perdagangan Selasa (6/11/2018).

Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan pelemahan ini sebetulnya menjadi syarat bagi pergerakan selanjutnya.

Selain karena titik jenuh, apabila pasar obligasi masih memiliki peluang untuk menguat, maka pelemahan ini menjadi batu loncatan berikutnya. 
Meskipun demikian, secara jangka panjang, pelemahan ini masih termasuk area downtrend

Fokus utamanya adalah mengikuti lelang yang diadakan pemerintah, lalu menanti data Jobless Claims serta FOMC Meeting pada 9 November 2018. 
FOMC merupakan titik terpenting mengenai seberapa besar tingkat probabilitas kenaikan tingkat suku bunga The Fed pada Desember 2018. 

Beralih ke dalam negeri, data cadangan devisa (cadev) dari Indonesia juga dinantikan. Lantaran Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) baru efektif pada November 2018, maka Kiwoom Sekuritas memperkirakan cadev masih akan mengalami penurunan meskipun sudah tidak signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. 

"Kami menilai meskipun pasar obligasi yang didukung oleh penguatan rupiah masih berpotensi untuk terus menguat, tapi ini masih dalam tahap yang cukup rapuh. Sehingga, kehati-kehatian dibutuhkan saat ini agar tidak menjadi angin surga sesaat," paparnya dalam riset harian, Selasa (6/11).

Kiwoom Sekuritas merekomendasikan investor untuk hold hingga berpotensi jual di pasar sekunder dan mengikuti lelang yang diadakan pada hari ini.

Pemerintah akan melelang SUN berdenominasi rupiah pada Selasa (6/11), dengan target indikatif Rp10 triliun dan target maksimal Rp20 triliun. Seri yang dilelang adalah SPN03190207, SPN12191107, FR0077, FR0078, FR0065, dan FR0075.

Pada perdagangan Senin (5/11), total transaksi dan frekuensi turun dibandingkan hari sebelumnya di tengah mulai jenuhnya kenaikan harga obligasi. 
 
Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi 10-15 tahun, diikuti dengan tenor 5-7 tahun dan di bawah 1 tahun. Sisanya, merata di semua tenor dengan volume kecil hingga 20 tahun. 
 
Kemarin, pasar obligasi juga mulai merasakan titik jenuh setelah selama tiga hari sebelumnya mengalami kenaikan yang cukup signifikan, didorong oleh penguatan rupiah yang pada akhirnya turun ke bawah Rp15.000. 
 
Selain itu, para pelaku pasar dan investor juga sedikit menahan transaksi dikarenakan adanya lelang yang diadakan oleh pemerintah pada hari ini. Sehingga, mereka mengalokasikan dananya untuk mengikuti lelang, khususnya seri obligasi acuan terbaru untuk tahun depan.
 
Di pasar global, imbal hasil obligasi Zona Amerika ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikan imbal hasil terbesar ada di Brasil (10,1%, +0.9), sedangkan penurunan terbesar di Meksiko (8,62%, -15.4). 
 
Imbal hasil wilayah Zona Eropa ditutup bervariasi, didominasi oleh kenaikan imbal hasil. Kenaikan imbal hasil terbesar ada di Irlandia (1%, +1.3) dan penurunan terbesar ada di Siprus (2,31%, -2.2). 
 
Imbal hasil Asia Pasifik ditutup bervariasi, didominasi oleh kenaikan imbal hasil. Kenaikan imbal hasil terbesar ada di India (7,8%, +2.8) dan penurunan terdalam di Pakistan (11,76%, -6.7). 
 
Imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup sama di 8,34%. Adapun rupiah ditutup melemah di level Rp14.977, dibandingkan hari sebelumnya yang ada di posisi Rp14.955.

Sementara itu, minyak Texas ditutup turun di harga US$62,71 per barel dibandingkan hari sebelumnya yang sebesar US$63,14 per barel.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup